Home Berita Internasional Iran Tegaskan AS Keluar dari Wilayahnya atau Siap Hadapi Balasan

Iran Tegaskan AS Keluar dari Wilayahnya atau Siap Hadapi Balasan

Sumbawanews.com,- Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengeluarkan peringatan tegas kepada Amerika Serikat, menuntut agar pasukan AS segera meninggalkan kawasan Timur Tengah jika ingin menghindari konsekuensi lebih serius. Ancaman ini disampaikan usai serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di Bahrain dan Yordania, yang dipicu oleh serangan udara AS terhadap infrastruktur strategis di wilayah selatan Iran.

Dalam unggahan di platform X, Araghchi menegaskan bahwa Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tidak akan membiarkan setiap agresi tanpa respons setimpal. “Meskipun kalah di medan perang, AS memilih menguji tekad kami,” tulisnya. “Tinggalkan wilayah kami jika Anda ingin aman.”

Peringatan itu bukan sekadar retorika. Serangan AS pada Selasa (9/6) berhasil menghancurkan menara komunikasi dan dua tangki air strategis di kawasan Jask, Sirik, dan Qeshm—lokasi-lokasi yang berdekatan dengan Selat Hormuz, jalur maritim paling krusial di dunia. AS menyatakan serangan itu sebagai respons terhadap dugaan penembakan pesawat Apache miliknya oleh Iran saat melakukan patroli di Selat Hormuz pada Senin (8/6).

Sebagai balasan, IRGC melancarkan serangan drone terhadap Angkatan Laut ke-5 AS di Bahrain pada pukul 02.30 waktu setempat, sekaligus menembakkan rudal ke pangkalan udara Al-Azraq di Yordania. Klaim Iran menyebut empat sasaran utama berhasil dihancurkan, termasuk hanggar pesawat tempur F-35 dan pusat komando militer AS di Yordania.

Ketegangan antara kedua negara memang belum pernah mereda sejak konflik terbuka meletus akhir Februari lalu. Meski sempat mencapai gencatan senjata sementara, Iran menuduh AS dan sekutunya, terutama Israel, terus melanggar kesepakatan dengan serangan berulang terhadap infrastruktur militer dan sipil di Iran. Sementara AS membantah tuduhan itu, namun tetap mempertahankan kehadiran militer yang luas di kawasan Teluk.

Araghchi menambahkan bahwa sejarah Teluk Persia penuh dengan pelajaran pahit bagi kekuatan asing yang menganggap wilayah ini sebagai arena intervensi. “Banyak bab yang telah ditulis tentang nasib buruk orang luar yang mengganggu,” ujarnya, mengingatkan pada masa-masa kolonial dan intervensi Barat di kawasan itu.

Krisis ini kini memperdalam kekhawatiran global akan eskalasi konflik yang bisa menyeret sekutu regional seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Israel ke dalam pusaran perang. PBB dan sejumlah negara Eropa telah mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri, namun hingga kini, sikap keras dari Teheran dan Washington justru semakin mengeras.

Dengan kehadiran ribuan pasukan AS di kawasan dan kemampuan rudal serta drone Iran yang terus berkembang, dunia kini menanti apakah retorika keras itu akan berubah menjadi perang terbuka—atau apakah kedua kekuatan masih menyimpan ruang untuk diplomasi sebelum titik balik tak terelakkan tercapai.

Previous articlePanas Ekstrem Ancam Piala Dunia 2026
Next article5 Kereta Terbaik Jogja-Jakarta, dari Hemat hingga Eksklusif
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.