Sumbawanews.com,- Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah menyerukan pemerintah untuk membuka diri terhadap kritik dan masukan konstruktif di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. Pelemahan rupiah, anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan melonjaknya yield SBN menjadi indikator bahwa kepercayaan pasar mulai goyah—dan respons pemerintah harus lebih strategis, bukan defensif.
“Kita tidak perlu menyalahkan The Fed yang kebijakannya hawkish, atau gejolak di Teluk yang tak bisa kita kendalikan,” ujar Said dalam keterangan resminya, Rabu (10/6). “Yang lebih penting adalah fokus pada apa yang bisa kita kendalikan: bagaimana menstabilkan dolar, menekan biaya utang, dan memulihkan kepercayaan investor.”
Said, yang juga politikus PDIP, mengusulkan tiga langkah krusial berbasis rekomendasi lembaga rating dan akademisi. Pertama, pemerintah harus menjaga konsistensi kebijakan. Ia mengingatkan bahwa pengumuman kebijakan yang prematur justru menciptakan ketidakpastian. “Jangan asal umumkan rencana sebelum matang. Bangun dialog yang inklusif dengan pelaku usaha, akademisi, dan regulator,” tegasnya.
Kedua, pengelolaan fiskal harus tetap sehat. Said memuji proposal defisit RAPBN 2027 yang ditargetkan di kisaran 1,8–2,4 persen terhadap PDB. Menurutnya, angka ini menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan fiskal. Ia menambahkan, jika realisasi defisit 2026 bisa turun dari target 2,68 persen menjadi di bawah 2,58 persen—lebih rendah dari capaian 2025 yang sebesar 2,81 persen—maka ini akan menjadi sinyal positif kuat bagi pasar.
Ketiga, pemerintah diminta memperbaiki tata kelola program sosial yang masih menuai kekhawatiran, khususnya Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Said menekankan perlunya peningkatan kapasitas implementasi, pencegahan konflik kepentingan, serta fokus pada daerah prioritas dan sasaran tepat sasaran.
Di sektor keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diminta segera mereformasi tata kelola bursa. Salah satu prioritasnya: meningkatkan transparansi kepemilikan saham, memperluas free float di atas 15 persen, dan mengevaluasi kinerja self-regulatory organization (SRO) di pasar modal. “Tanpa kepercayaan pada integritas pasar, investor asing maupun domestik akan enggan masuk,” tandas Said.
Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, Said menegaskan: kritik bukan musuh, tapi cermin. “Ketika pasar memberi sinyal merah, bukan waktunya menutup telinga. Tapi membuka hati—dan memperbaiki sistem.”

















