Sumbawanews.com,- Tentara Nasional Indonesia (TNI) secara resmi mengelola seluas 25 juta hektare lahan guna mendukung program ketahanan pangan nasional. Wilayah yang tersebar di berbagai provinsi, mulai dari Sumatra, Kalimantan, hingga Papua, kini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor pangan dan memperkuat kedaulatan pangan di tingkat lokal.
Lahan-lahan tersebut sebagian besar merupakan kawasan hutan negara, lahan tidur, atau wilayah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal. Melalui program “TNI Manunggal Membangun Pertanian” (TM3P), satuan-satuan TNI di tingkat koramil hingga kodam langsung terlibat dalam pengolahan tanah, penanaman, hingga distribusi hasil panen. Komoditas utama yang dikembangkan meliputi padi, jagung, kedelai, ubi kayu, dan sayuran strategis.
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Dr. Dudung Abdurachman mengatakan, peran TNI bukan sekadar operasional, tetapi juga sebagai agen transformasi ekonomi pedesaan. “Kami tidak hanya menanam, tapi juga membina petani lokal, menyediakan akses irigasi, dan membangun gudang penyimpanan hasil panen,” ujarnya dalam rapat koordinasi nasional di Jakarta, pekan lalu.
Data Kementerian Pertanian menunjukkan, dari 25 juta hektare lahan yang dikelola TNI, sekitar 7 juta hektare sudah produktif dan menghasilkan lebih dari 15 juta ton bahan pangan per tahun. Angka ini setara dengan 20 persen dari total produksi nasional untuk tiga komoditas utama: padi, jagung, dan kedelai.
Program ini juga menjadi solusi atas tantangan perubahan iklim dan degradasi lahan. Dengan pendekatan agroforestri dan pertanian berkelanjutan, TNI memadukan tanaman pangan dengan penghijauan, sehingga tidak hanya meningkatkan hasil, tetapi juga memulihkan ekosistem.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menilai, kolaborasi TNI dengan petani lokal telah menciptakan model ketahanan pangan yang tangguh. “Ini bukan sekadar program militer, tapi gerakan nasional yang menyentuh akar masalah: kemandirian pangan dari desa,” katanya.
Pemerintah berencana memperluas program ini hingga 30 juta hektare pada tahun 2027, dengan target swasembada pangan total dan peningkatan pendapatan petani hingga 40 persen. TNI pun siap memperkuat infrastruktur logistik, termasuk pembangunan jalan desa dan cold storage, agar hasil panen tidak sia-sia akibat kerusakan pasca-panen.
Dengan pendekatan terpadu antara keamanan, ekonomi, dan lingkungan, TNI kini bukan hanya penjaga negara, tapi juga penjaga pangan bangsa.

















