Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa AS akan mengumumkan “kemenangan total” atas Iran dalam waktu dua pekan mendatang, meski Teheran menegaskan tak akan menyerah meski menghadapi tekanan militer berkelanjutan dari Washington dan sekutunya.
Pernyataan keras itu disampaikan Trump dalam telekonferensi dengan Senator Lindsey Graham, sekutu dekatnya di Partai Republik, hanya beberapa jam setelah Iran dan Israel sepakat menghentikan serangan langsung—meski tidak sepenuhnya menutup pintu bagi eskalasi baru. “Kita telah menjadi tim yang sangat tangguh, dan saya pikir kita memenangkan pertempuran itu,” kata Trump. “Tetapi Anda benar-benar akan memenangkannya dalam dua pekan ke depan, ketika kita menyatakan kemenangan total.”
Trump menambahkan, kemenangan itu akan berdampak signifikan pada pasar energi global, dengan prediksi harga minyak akan anjlok akibat kekalahan strategis Iran. Pernyataan ini mengulangi klaim serupa yang ia sampaikan sejak Februari lalu, ketika AS meluncurkan serangan udara dan siber terhadap infrastruktur militer dan rudal Iran.
Namun, Teheran menolak mentah-mentah narasi kemenangan AS. Kementerian Pertahanan Iran menegaskan bahwa kemampuan rudalnya tidak hanya utuh, tetapi semakin canggih. Militer Iran juga mengingatkan bahwa setiap serangan baru terhadap Lebanon—terutama di wilayah selatan yang menjadi basis Hezbollah—akan dijawab dengan “respons menghancurkan.” Pernyataan ini muncul setelah Israel melancarkan serangan udara ke ibu kota Beirut, meski gencatan senjata secara teknis masih berlaku.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dalam pidato televisi bahwa konflik dengan Iran “berhenti untuk saat ini,” namun menegaskan bahwa Israel akan membalas “dengan kekuatan penuh” jika diserang. Di sisi lain, Iran melalui Garda Revolusi (IRGC) mengumumkan operasi “Nasr” yang menjanjikan serangan berkelanjutan terhadap target Israel dalam tujuh hari ke depan, menggunakan drone dan rudal jelajah.
Trump, yang sebelumnya mengklaim bahwa angkatan bersenjata Iran telah “hancur” dan kemampuan rudalnya “dihancurkan,” kini menghadapi tantangan diplomasi yang lebih kompleks. Teheran menolak semua klaim kemenangan AS sebagai propaganda, dan menegaskan bahwa dialog yang setara—bukan paksaan militer—adalah satu-satunya jalan keluar.
Analisis dari Kementerian Luar Negeri Indonesia menyebut situasi saat ini berada di titik kritis: tiga skenario kemungkinan masih terbuka—perdamaian melalui negosiasi, eskalasi terbatas, atau ledakan nuklir yang tidak terkendali. Namun, semua pihak tampak berhati-hati, mengingat risiko konflik yang melibatkan kekuatan nuklir dan sekutu regional.
Dengan waktu yang tersisa hanya dua pekan, dunia menanti apakah Trump akan benar-benar mengeksekusi ancamannya—atau apakah Teheran akan menunjukkan bahwa ketahanan strategisnya jauh lebih kuat dari yang diperkirakan Washington.

















