Sumbawanews.com,- Tim gabungan SAR dikerahkan secara intensif di Sulawesi Utara menyusul gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah itu pada Senin, 8 Juni 2026. Gempa yang berpusat di kedalaman 105 kilometer itu memicu guncangan kuat hingga ke pulau-pulau terluar, merusak ratusan rumah warga, fasilitas umum, dan tempat ibadah.
Kepala Basarnas Manado, George Mercy Randang, mengonfirmasi bahwa kerusakan paling parah tercatat di daerah kepulauan, terutama di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud. Bangunan-bangunan berbahan bata dan kayu banyak yang mengalami retak struktural hingga rubuh sebagian, sementara atap rumah warga berjatuhan akibat guncangan yang berlangsung selama lebih dari 30 detik.
Masyarakat di sejumlah titik sempat panik dan melakukan evakuasi mandiri ke dataran tinggi, mengikuti peringatan dini tsunami yang dikeluarkan BMKG. Meski gelombang tsunami sempat terpantau di tiga lokasi pesisir—Sangihe, Sitaro, dan Bitung—tingginya tidak melebihi 50 sentimeter dan tidak menyebabkan banjir besar.
“Data kerusakan masih terus diverifikasi di lapangan. Kami bersama BPBD, TNI, dan Polri mendata setiap rumah yang rusak ringan, sedang, hingga berat,” ujar Mercy, menambahkan bahwa tim telah mengerahkan drone dan tim pendataan darat untuk mempercepat proses asesmen.
Hingga kini, belum ada laporan korban jiwa. Namun, puluhan warga dilaporkan mengalami luka ringan akibat tertimpa reruntuhan atau terjatuh saat berlari menghindari guncangan. Pusat pengungsian darurat pun dibuka di sekolah-sekolah dan balai desa yang masih berdiri kokoh.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, melalui Gubernur Sulut, telah mengaktifkan posko tanggap darurat dan mengalokasikan bantuan logistik, tenda, air bersih, serta obat-obatan dasar. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulut, Dr. Ir. H. Suryadi, M.Si., menegaskan bahwa prioritas utama adalah memastikan keselamatan warga dan mencegah penyebaran informasi hoaks yang bisa memicu kepanikan.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah, serta tidak mendekati pesisir hingga peringatan tsunami dicabut,” ujar Suryadi.
Gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif di zona subduksi Filipina, yang juga menjadi penyebab gempa dahsyat serupa di wilayah itu pada tahun-tahun sebelumnya. BMKG memperkirakan kemungkinan gempa susulan dengan magnitudo hingga 6,0 masih ada dalam 72 jam ke depan, sehingga kewaspadaan tetap harus dijaga.
Pemulihan infrastruktur dan rehabilitasi rumah warga diharapkan segera dimulai setelah data kerusakan selesai diverifikasi. Pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR dan BNPB dikabarkan sedang menyiapkan skema bantuan pemulihan cepat, termasuk program “Rumah Tahan Gempa” untuk rekonstruksi jangka panjang.

















