Sumbawanews.com,- Gaza — Serangan udara Israel menghancurkan tenda-tenda pengungsian di lingkungan Al-Rimal, sebelah barat Kota Gaza, Sabtu (6/6/2026) malam, menewaskan setidaknya delapan warga Palestina dan melukai 15 lainnya. Korban terbanyak adalah anak-anak yang telah kehilangan rumah akibat agresi militer berkelanjutan di Jalur Gaza.
Menurut laporan jurnalis lokal Muhammad Rabah, serangan itu menyasar kawasan Al-Jawazat, salah satu pusat penampungan bagi keluarga-keluarga yang terusir dari rumah mereka selama lebih dari dua setengah tahun konflik. Ledakan hebat menghancurkan beberapa tenda darurat, memicu kekacauan di tengah gelap malam. Tim penyelamat dan petugas pertahanan sipil bekerja keras mengevakuasi korban, sebagian besar dibawa ke Rumah Sakit Al-Shifa yang sudah overload.
Kementerian Kesehatan Palestina mencatat, sejak 7 Oktober 2023, total korban tewas akibat serangan Israel mencapai 72.961 orang, dengan 173.092 lainnya mengalami luka-luka. Sebagian besar korban adalah warga sipil—perempuan dan anak-anak yang tak bersenjata, hidup dalam ketakutan di bawah tenda-tenda reyot, tanpa akses memadai terhadap air bersih, makanan, atau perawatan medis.
Pertempuran berlanjut meski tekanan diplomatik global semakin keras. Pernyataan gencatan senjata yang sempat diumumkan sebelumnya kini terlihat semakin rapuh. Organisasi kemanusiaan internasional, termasuk PBB dan Palang Merah, berulang kali mengecam serangan terhadap kamp pengungsian sebagai pelanggaran hukum humaniter yang tak dapat dibenarkan.
Di tengah keheningan malam Gaza, suara tangisan anak-anak yang kehilangan orang tua kembali menggema—bukan hanya sebagai duka, tapi sebagai pengingat bahwa perang ini tak hanya menghancurkan batu dan beton, tapi juga masa depan sebuah bangsa.

















