Sumbawanews.com,- Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi, mengungkapkan rangkaian pengawasan intensif terhadap dirinya dan keluarganya yang diduga dilakukan oleh sekelompok orang berseragam militer. Kejadian ini berlangsung selama dua pekan terakhir, bermula dari kecurigaan warga sekitar rumahnya di Jakarta Selatan yang melihat sejumlah orang tak dikenal memotret garasi dan menanyakan detail kehidupan pribadi keluarganya.
Pada 19 Mei 2026, dua pria tak dikenal terlihat berkeliling di sekitar rumah Islah, memotret setiap sudut dengan ponsel. Rekaman CCTV rumah menangkap satu dari mereka—wajahnya identik dengan orang yang sebelumnya sering bertanya kepada tetangga tentang rutinitas Islah, termasuk jadwal anak-anaknya. Tiga hari kemudian, pada 21 Mei, kecurigaan memuncak saat keponakan Islah, yang menjemputnya di Bandara Soekarno-Hatta, melihat sebuah mobil Avanza dengan plat nomor tertentu mengikuti pergerakan mereka sejak dari rumah, hingga makan di restoran Pantai Indah Kapuk 2, dan kembali ke kediaman.
Keponakan itu sengaja memfoto mobil itu dengan kamera depan ponsel, seolah sedang selfie, agar tak disadari. Di sekitar rumah, mobil itu terus muncul—parkir di depan warung kopi 100 meter dari rumah, atau di pinggir Jalan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Warga sekitar mencatat, mobil dan sepeda motor yang sama selalu berkumpul di area parkir yang sama, saling berkomunikasi lewat telepon, seolah menjalankan operasi terkoordinasi.
Puncaknya, pada malam hari yang sama, seorang pria tak dikenal memarkir sepeda motornya hanya 30 meter dari rumah Islah. Ia terlihat sibuk mengoperasikan alat kecil yang mirip *direction finder*—perangkat intelijen yang digunakan untuk melacak sinyal perangkat elektronik. Ketika didekati warga, pria itu kabur. Namun, rekaman kamera keamanan berhasil menangkap wajah rekan yang diboncengnya, yang kemudian diidentifikasi oleh jaringan Islah sebagai anggota TNI.
Selama 22–24 Mei, Islah mengajak warga sekitar untuk memantau CCTV secara bersama-sama dan mendokumentasikan setiap gerak mencurigakan. Pada 24 Mei, keluarganya dievakuasi ke tempat aman. Namun, pada 1 Juni, tetangga kembali melaporkan adanya orang tak dikenal yang memotret rumah—dan dari foto yang diambil, Islah menemukan bahwa pelaku menggunakan aplikasi pelaporan khusus yang menurutnya merupakan sistem internal militer untuk memantau target.
“Kami sudah mengidentifikasi enam orang itu sebagai anggota TNI. Saya perjelas: anggota TNI,” tegas Islah dalam konferensi pers di kantor YLBHI, Jakarta, Jumat, 5 Juni 2026. Ia menambahkan, belum ada informasi pasti tentang satuan atau unit yang terlibat, namun pola operasi, peralatan, dan sistem pelaporan yang digunakan sangat khas dengan metode intelijen militer.
Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI, Brigjen TNI Muhammad Nas, merespons dengan menawarkan koordinasi. “Jika ada bukti konkret, TNI siap menindaklanjuti,” ujarnya. Namun, hingga kini, belum ada respons resmi dari institusi militer terkait identitas atau tanggung jawab para pelaku.
Islah, yang dikenal sebagai aktivis yang kritis terhadap tren remiliterisasi di Indonesia, menganggap insiden ini sebagai respons terhadap suaranya yang mengecam perluasan peran militer dalam urusan sipil. “Ini bukan sekadar pengawasan biasa. Ini adalah intimidasi sistematis terhadap warga negara yang berbeda pendapat,” katanya.
Kini, seluruh rekaman, foto, dan data digital telah diserahkan ke lembaga hukum dan organisasi hak asasi manusia untuk ditindaklanjuti. Sementara itu, warga sekitar rumah Islah tetap berjaga, siap merekam setiap gerak asing yang muncul di jalanan yang dulu tenang.

















