Sumbawanews.com,- Kota Semarang mendapat penghargaan nasional atas inovasi pendanaan kreatif dalam pengelolaan keuangan daerah. Penghargaan tersebut diberikan oleh Kementerian Dalam Negeri sebagai bagian dari Program Penghargaan Inovasi Pelayanan Publik 2026, yang mengapresiasi kota-kota dengan strategi keuangan non-tradisional yang efektif dan berkelanjutan.
Pemkot Semarang dinilai mampu menggabungkan pendekatan partisipatif masyarakat, kolaborasi dengan sektor swasta, dan pemanfaatan instrumen keuangan berbasis aset daerah untuk mendanai program infrastruktur, pemberdayaan UMKM, dan penanganan sampah. Salah satu inovasi unggulan adalah skema “Dana Lingkungan Berbasis Komunitas” yang memungkinkan warga berkontribusi melalui donasi sukarela yang kemudian diimbangi dengan insentif fiskal dari APBD, seperti pembebasan retribusi pasar atau prioritas akses pembiayaan mikro.
Selain itu, pemerintah kota juga berhasil menghidupkan kembali aset-aset mati, seperti gedung-gedung lama milik daerah, dengan mengonversinya menjadi ruang kreatif dan pusat usaha mikro melalui kerja sama dengan pelaku ekonomi kreatif. Hasilnya, pendapatan asli daerah dari sektor non-pajak meningkat 37% dalam dua tahun terakhir, tanpa menaikkan tarif pajak atau retribusi.
Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, dalam sambutannya saat penyerahan penghargaan di Jakarta, menyebut Semarang sebagai “contoh nyata bagaimana kreativitas administratif bisa mengubah keterbatasan menjadi peluang.” Ia menekankan bahwa inovasi semacam ini bukan sekadar trik keuangan, tapi bentuk transformasi tata kelola pemerintahan yang berorientasi pada hasil nyata bagi rakyat.
Penghargaan ini menjadi yang kedua kalinya Semarang memenangkan kategori serupa sejak 2023, memperkuat reputasinya sebagai salah satu kota paling inovatif di Jawa Tengah. Pemerintah kota kini berencana memperluas model ini ke sektor pendidikan dan kesehatan, dengan menggandeng perguruan tinggi dan lembaga keuangan syariah untuk menciptakan dana sosial berbasis komunitas.
Kepala Badan Pendapatan Daerah Kota Semarang, Heru Sutrisno, mengatakan bahwa kunci keberhasilan mereka bukan pada teknologi canggih, tapi pada keberanian mempercayai masyarakat sebagai mitra strategis. “Kami tidak hanya mengelola uang, tapi membangun kepercayaan. Dan kepercayaan itulah yang menjadi modal paling berharga,” ujarnya.

















