Sumbawanews.com,- Beirut – Kelompok Hizbullah di Lebanon melancarkan serangan mematikan terhadap pasukan Israel di wilayah selatan Sungai Litani, menewaskan seorang kapten angkatan darat Israel (IDF) dalam serangan rudal anti-tank pada Kamis (4/6/2026). Insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang memuncak, setelah kesepakatan gencatan senjata antara Lebanon, Israel, dan Amerika Serikat baru saja diumumkan.
Menurut laporan militer Israel, korban bernama kapten dari Batalyon 75, Brigade Lapis Baja ke-7, tewas saat tank Merkava yang dipimpinnya menjadi sasaran serangan di dekat kota Yohmor al-Shaqif. Rudal yang ditembakkan oleh pejuang Hizbullah menghantam sisi kendaraan tempur, mengakibatkan kebakaran hebat dan kematian instan. Lokasi serangan berada dalam jarak kurang dari 30 kilometer dari perbatasan Israel, di wilayah yang telah menjadi medan pertempuran sengit sejak awal Maret 2026.
Hizbullah mengklaim serangkaian serangan berkelanjutan terhadap posisi militer Israel, termasuk di Rashaf, al-Qantara, dan Khiam. Dalam pernyataan resminya, kelompok ini menyebut serangan dilakukan menggunakan drone penyerang, roket artileri, dan tembakan rudal anti-tank, dengan fokus pada konsentrasi pasukan dan komando militer Israel. Beberapa tank Merkava dilaporkan hancur dalam serangan tersebut.
Puncak ketegangan terjadi di sekitar Kastil Beaufort, situs bersejarah yang kini menjadi titik strategis pertempuran. Hizbullah menyatakan telah menargetkan pusat komando Israel dengan serangan beruntun, memicu kekacauan di jajaran pasukan yang sedang melakukan operasi pembersihan.
Namun, di tengah upaya diplomasi yang tengah berjalan, pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menolak mentah-mentah kesepakatan gencatan senjata yang diusung oleh Lebanon, Israel, dan AS. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata tidak akan diterima selama Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di tanah Lebanon. “Selama penjajahan berlanjut, perlawanan akan terus berdenyut,” tegas Qassem dalam pernyataan bersama pada Kamis malam.
Kesepakatan yang diumumkan sehari sebelumnya menuntut penarikan total Hizbullah dari wilayah selatan Sungai Litani dan penghentian seluruh serangan. Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan bahwa AS akan menentukan mekanisme dan waktu pelaksanaannya, dengan target penerapan dalam waktu 24 jam setelah persetujuan resmi diberikan.
Namun, kematian kapten IDF dan serangan berkelanjutan Hizbullah menandakan bahwa kesepakatan itu masih rapuh. Militer Israel belum memberikan komentar resmi mengenai kejadian ini, tetapi sumber militer mengindikasikan bahwa operasi di Lebanon kemungkinan akan diperluas sebagai respons.
Dalam beberapa pekan terakhir, Hizbullah telah membuktikan kemampuan taktisnya yang semakin canggih—dari drone buatan lokal hingga rudal presisi tinggi—yang mampu menembus pertahanan modern Israel. Kematian seorang perwira tinggi seperti kapten ini menjadi simbol bahwa konflik di perbatasan tidak lagi bersifat lokal, melainkan telah memasuki fase yang lebih mematikan dan kompleks.
Sementara dunia menanti apakah gencatan senjata akan bertahan, di lereng-lereng Lebanon selatan, api perang masih menyala—dengan harga yang semakin mahal.

















