Sumbawanews.com,- Pemimpin senior Iran, Mojtaba Khamenei, menuding kekuatan asing sengaja memperdalam perpecahan di kalangan rakyatnya, menyusul serangkaian tekanan strategis yang dialami negara itu dalam konflik regional. Dalam pesan tertulis yang dibacakan pada peringatan wafatnya pendiri Republik Islam, Ayatollah Khomeini, Mojtaba memperingatkan bahwa upaya meracuni pikiran publik melalui keputusasaan, ketakutan, dan keraguan adalah senjata utama musuh yang ingin melemahkan persatuan nasional.
“Setiap tindakan yang menanamkan pesimisme, sejatinya adalah bentuk kerja sama dengan musuh,” tegasnya, menyerukan solidaritas tanpa kompromi di tengah ketegangan geopolitik yang kian memanas. Ia menekankan bahwa keteguhan, kesadaran kolektif, dan kekompakan adalah benteng terkuat melawan rencana destruktif yang dirancang dari luar.
Pernyataan ini muncul di tengah gelombang ketegangan baru di Timur Tengah. Baru beberapa hari sebelumnya, Kuwait mengusir dua diplomat Iran setelah sebuah drone yang diduga berasal dari Teheran menyerang Bandara Internasional Kuwait. Serangan itu memicu reaksi keras dari sekutu Barat Iran, sekaligus memperdalam isolasi diplomatik negara itu. Di sisi lain, Israel dilaporkan terus memperkuat pos militernya di Jalur Gaza, sementara serangan balasan Iran terhadap kapal perang AS yang dikendalikan dari jarak jauh masih menjadi bahan perdebatan global.
Namun, di tengah ketegangan, muncul sinyal tak terduga dari Washington. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Mojtaba Khamenei sebagai tokoh kunci dalam proses negosiasi damai antara AS dan Iran. Dalam wawancara eksklusif dengan Pod Force One, Trump mengatakan hubungannya dengan Mojtaba “tampaknya rukun” dan menambahkan bahwa perundingan damai “berkembang pesat.” Ia bahkan membuka kemungkinan bertemu langsung dengan Mojtaba suatu hari nanti, tergantung pada dinamika perundingan yang kini berada di titik krusial.
Meski Trump menggambarkan proses negosiasi sebagai kemajuan signifikan, pernyataan Mojtaba menunjukkan bahwa di dalam Iran, persepsi ancaman jauh lebih dalam. Bagi para elit kekuasaan di Teheran, bukan hanya senjata atau rudal yang menjadi ancaman—tapi juga perang informasi yang dirancang untuk menggoyahkan keyakinan rakyat terhadap sistemnya sendiri.
Dengan latar belakang sanksi ekonomi yang masih menghimpit, protes sosial yang tak kunjung padam, dan tekanan militer dari tetangga-tetangga regional, pernyataan Mojtaba bukan sekadar retorika. Ia adalah seruan untuk bertahan—bukan hanya sebagai negara, tapi sebagai sebuah identitas yang dipertahankan melalui persatuan. Dan dalam dunia yang semakin terpecah oleh disinformasi, pesan itu mungkin justru menjadi senjata paling berbahaya yang dimiliki Iran: kepercayaan yang tak mudah goyah.

















