Sumbawanews.com,- Kehidupan baru bermula di hutan lebat Cagar Alam Jantho, Aceh Besar. Seorang bayi orangutan Sumatera, yang diberi nama Badar, lahir di alam liar pada 22 Mei 2026, mengukir sejarah sebagai bukti nyata keberhasilan program rehabilitasi dan pelepasliaran satwa langka. Bayi jantan berusia sekitar satu bulan itu digendong erat oleh sang ibu, Bulan—seekor orangutan yang pernah menjadi korban perdagangan ilegal, lalu direhabilitasi dan dilepaskan kembali ke habitat aslinya pada 2018.
Pengumuman kelahiran ini disampaikan langsung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang kini memimpin upaya konservasi nasional. Menteri LHK, Raja Juli Antoni, menekankan bahwa nama “Badar”—yang dalam bahasa Aceh berarti bulan purnama—bukan sekadar simbol keindahan, tapi juga harapan. “Setiap kelahiran di alam liar adalah kemenangan atas kehancuran. Badar adalah bukti bahwa ketika kita melindungi hutan, hutan melindungi masa depan kita,” ujarnya.
Tim pemantau pasca-pelepasan dari YEL-SOCP, yang mengawasi Bulan sejak 2018, melaporkan bahwa ibu dan anak tampak sehat, aktif, dan saling melekat erat. Bulan terlihat lincah bergerak di kanopi hutan, sambil terus melindungi bayinya dari pandangan mata manusia. Tidak ada tanda kecemasan atau gangguan—hanya keibuan alami yang berjalan tanpa campur tangan.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata, menyebut kelahiran Badar sebagai “pencapaian tak ternilai” dari kerja panjang rehabilitasi. “Bulan bukan hanya bertahan hidup. Ia berhasil menjadi ibu. Ini membuktikan bahwa rehabilitasi bukan sekadar penyelamatan, tapi pemulihan identitas sebagai bagian dari ekosistem,” katanya.
Kehadiran Badar juga menjadi penanda penting bagi kawasan CA Jantho, yang kini menjadi salah satu dari sedikit tempat di Sumatera di mana orangutan Sumatera (_Pongo abelii_) berhasil berkembang biak secara alami setelah dilepaskan dari pusat rehabilitasi. Spesies yang terdaftar sebagai kritis oleh IUCN ini hanya tersisa sekitar 14.000 individu di alam liar, dengan habitatnya terus menyusut akibat deforestasi dan konversi lahan.
Pemerintah menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia adalah hasil dari konsistensi perlindungan hutan, penegakan hukum terhadap perdagangan satwa, dan kolaborasi antara pemerintah, LSM, dan masyarakat lokal. Di balik setiap gerakan Bulan di pohon, ada ratusan jam pemantauan, ribuan hektar hutan yang dipertahankan, dan puluhan orang yang tidak pernah menyerah.
Badar, si bayi bulan purnama, belum bisa berayun sendiri. Tapi di balik dekapan ibunya, ia sudah menjadi simbol—bahwa kehidupan bisa pulih, asal kita berhenti merusak.

















