Home Berita Internasional Israel Gencarkan Serangan Berulang ke Nabatieh, Kota Simbol Perlawanan Lebanon

Israel Gencarkan Serangan Berulang ke Nabatieh, Kota Simbol Perlawanan Lebanon

Sumbawanews.com,- Pasukan Israel melakukan serangan berulang terhadap Nabatieh, kota terbesar kedua di Lebanon selatan, dengan serangan udara, artileri, dan pengeboman yang menghancurkan permukiman, pemakaman, dan infrastruktur strategis. Pernyataan evakuasi paksa dikeluarkan seluruh kota, memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka—sebagian besar warga Shia yang menjadi tulang punggung dukungan politik dan sosial bagi Hezbollah. Serangan ini terjadi di tengah perayaan Eid al-Adha, ketika warga sipil, paramedis, bahkan jurnalis menjadi sasaran langsung, menurut laporan dari tim medis Lebanon dan Komite Perlindungan Jurnalis.

Nabatieh, yang terletak 11 kilometer dari perbatasan Israel dan berada di atas Sungai Litani, bukan sekadar kota biasa. Bagi banyak warga Lebanon, kota ini adalah simbol perlawanan historis—tempat peristiwa Ashura 1983 menjadi titik balik yang memicu gelombang perlawanan bersenjata selama 18 tahun terhadap pendudukan Israel. Kini, analis politik lokal Jad Dilati menilai serangan Israel bertujuan mengubah Nabatieh menjadi bagian dari “zona aman” yang dideklarasikan Tel Aviv, atau “garis kuning,” demi menghancurkan basis sosial-ekonomi Hezbollah.

“Ini bukan hanya soal menghilangkan pejuang Hezbollah,” kata Mohamad Bazzi, peneliti dari DAWN. “Ini adalah strategi sistematis untuk meruntuhkan jantung ekonomi dan identitas komunitas Shia di selatan Lebanon. Dengan menghancurkan pasar tradisional, rumah sakit, dan pusat administrasi, mereka ingin membuat kehidupan di sini tidak mungkin lagi dilanjutkan.”

Sejak intensifikasi operasi militer pada 2 Maret 2026, Israel telah menewaskan lebih dari 3.200 orang di Lebanon, termasuk banyak warga sipil. Serangan berulang—termasuk serangan ganda dan triple-tap yang menargetkan penyelamat dan jurnalis—telah menghancurkan sebagian besar kota. Bahkan selama gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada April, serangan terus berlanjut, dengan Israel membangun zona buffer 10 kilometer di sepanjang perbatasan.

Pemerintah Lebanon, meski lemah secara militer, berencana memulai negosiasi langsung dengan Israel pada 2–3 Juni. Presiden Joseph Aoun, dalam pidato di hari raya Eid, menyerukan persatuan nasional, sementara Hezbollah menegaskan bahwa pasukannya telah bertempur jarak dekat dengan tentara Israel di Zawtar al-Sharqiya, wilayah pinggiran Nabatieh. Pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, mengecam keras rencana negosiasi itu, menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap perlawanan rakyat.

Dilati mengingatkan bahwa ini bukan serangan pertama. Nabatieh telah menjadi sasaran sejak invasi 1978, pendudukan 1982, serta konflik 1993, 1996, 2006, hingga 2024—ketika pasar sejarah kota itu hancur total. Kini, setelah serangan terbaru, kota yang dulunya penuh kehidupan itu hampir kosong. “Mereka tidak hanya ingin mengusir warga,” katanya. “Mereka ingin menghapus kota ini dari peta—secara fisik dan simbolis.”

Lebih dari 1,2 juta orang di Lebanon kini mengungsi. Banyak yang tidak kembali meski gencatan senjata diberlakukan—karena trauma, kehancuran rumah, atau ketidakmampuan finansial. “Ketika perintah evakuasi dikeluarkan, mereka yang masih bertahan akhirnya pergi,” ujar Dilati. “Karena mereka takut. Dan ketika kota kosong, maka langkah selanjutnya adalah menghancurkannya selamanya.”

Previous articleAncol Penuh Sesak di Hari Raya Kurban
Next articlePengasuh Ponpes di Pekalongan Diduga Cabuli Puluhan Santriwati
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.