Sumbawanews.com,- Saat saham SpaceX mulai diperdagangkan secara publik pada Jumat pagi, platform investasi Robinhood dilaporkan mengalami gangguan beruntun yang memicu kemarahan ribuan pengguna. Menurut data dari situs pemantau gangguan layanan Downdetector, laporan masalah mencapai puncak lebih dari 5.500 laporan dalam waktu singkat, dengan keluhan serupa membanjiri platform Reddit dan X (sebelumnya Twitter).
Banyak pengguna melaporkan aplikasi Robinhood tiba-tiba crash, tidak bisa diakses, atau mengalami latensi ekstrem saat mencoba membeli saham SPCX. Sebagian pengguna mengaku berhasil mengirim perintah beli sebelum aplikasi gagal total, sementara yang lain sama sekali tidak bisa masuk ke akun mereka. Di subreddit r/TheRaceTo10Million, puluhan pengguna berbagi pengalaman frustrasi mereka, dengan sebagian menyebut kegagalan ini sebagai “bencana teknis” yang merusak kesempatan investasi.
Robinhood mengakui gangguan tersebut dalam sebuah pernyataan resmi di X, menyebut volume lalu lintas hari itu sebagai yang “tertinggi sepanjang sejarah.” “Beberapa pelanggan mengalami latensi dan gangguan sementara. Sistem esensial telah pulih, dan tim kami terus memantau situasi secara ketat,” demikian bunyi pernyataan perusahaan. Namun, respons ini tidak serta-merta menenangkan pengguna. Balasan di postingan resmi menunjukkan bahwa banyak pengguna masih mengalami masalah berkelanjutan hingga siang hari.
Kegagalan ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Robinhood pernah mengalami krisis serupa pada 2021 saat gelombang saham meme—terutama GameStop—membanjiri platform. Saat itu, volume transaksi melonjak hingga 1.000 persen dalam hitungan jam, membuat sistem perusahaan nyaris kolaps. Laporan Kongres AS kemudian mengungkap bahwa manajemen Robinhood sama sekali tidak siap menghadapi lonjakan pengguna baru, bahkan sempat berjuang untuk menjaga kelangsungan operasional sistem.
Kini, dengan peluncuran IPO SpaceX—perusahaan yang menjadi simbol ambisi Elon Musk di bidang antariksa dan kecerdasan buatan—Robinhood kembali terbukti rentan terhadap tekanan volume tinggi. Meski perusahaan menjanjikan perbaikan, banyak investor ritel yang merasa dikhianati: mereka datang untuk ikut serta dalam momen bersejarah, tetapi justru terjebak dalam kegagalan teknis yang seharusnya sudah bisa diantisipasi.

















