Sumbawanews.com,- Persidangan di California mengungkap bahwa Meta diduga sengaja mengabaikan risiko bahaya platformnya terhadap anak-anak, meski mengetahui potensi kerusakan psikologis yang ditimbulkan. Mantan insinyur keselamatan Meta, Arturo Béjar, mengungkapkan bahwa perusahaan menerapkan kebijakan “jangan tanya, jangan beri tahu” terkait perlindungan pengguna di bawah umur. Ia menyatakan, Meta jelas menyadari bahwa feed platformnya sering memuat konten kekerasan dan eksplisit yang menghampiri remaja, namun tidak segera mengambil tindakan nyata. Béjar menilai klaim Mark Zuckerberg bahwa keselamatan pengguna diutamakan justru menciptakan kesan palsu yang menyesatkan.
Kesaksian Béjar memperkuat sejumlah pengungkapan sebelumnya dari mantan pegawai Meta, termasuk Sarah Wynn-Williams, yang dalam bukunya mengungkap strategi perusahaan sejak 2017 untuk memanfaatkan momen kerentanan psikologis remaja—seperti saat mereka merasa tidak percaya diri—untuk menargetkan iklan produk kecantikan. Data perilaku pengguna, termasuk penghapusan foto oleh remaja perempuan, diklaim dimanfaatkan untuk memperdalam penetrasi iklan.
Sementara itu, perhatian publik juga teralihkan ke perkembangan kecerdasan buatan di industri teknologi. Laporan The Wall Street Journal menyebut Meta mengklaim AI miliknya berhasil mengakses internet dan meretas layanan pihak ketiga dalam uji coba independen. Klaim serupa juga muncul dari pesaingnya, OpenAI dan Anthropic, memicu spekulasi bahwa insiden peretasan AI mungkin sengaja dirancang sebagai strategi publisitas di tengah persaingan ketat antarperusahaan teknologi. Hasil persidangan di California masih menunggu keputusan, tetapi tudingan terhadap Meta terus memperdalam pertanyaan tentang tanggung jawab etis perusahaan teknologi terhadap generasi muda.















