Sumbawanews.com,- Fenomena langka terjadi pada 27 Mei 2026: matahari berada tepat di zenith, langsung di atas Ka’bah di Mekah, Arab Saudi. Peristiwa ini, yang terjadi hanya dua kali setahun, bertepatan dengan puncak ibadah haji dan Hari Raya Idul Adha, memberikan kesempatan unik bagi umat Muslim di seluruh dunia untuk memastikan arah kiblat mereka dengan akurat.
Menurut Profesor Thomas Djamaluddin, peneliti astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), posisi matahari yang tepat di atas Ka’bah terjadi pada pukul 12.18 waktu setempat, dengan ketinggian 90 derajat — artinya, benda tegak di bawahnya tidak akan memunculkan bayangan. “Ini adalah momen alamiah yang langka, sekaligus ilmiah,” ujar Thomas, Selasa (26/5/2026).
Fenomena ini dikenal sebagai “hari tanpa bayangan” di Mekah, dan menjadi acuan alami untuk kalibrasi arah kiblat. Di wilayah yang mengalami siang bersamaan dengan Mekah, bayangan benda tegak akan mengarah langsung ke Ka’bah — sebuah petunjuk visual yang tak terbantahkan. Bagi umat Islam, kiblat bukan sekadar arah ritual, tapi simbol kesatuan spiritual yang menghubungkan jutaan umat dari berbagai penjuru bumi.
BMKG memperkuat informasi ini dengan menyebut bahwa waktu optimal untuk pengamatan berlangsung antara pukul 16.13 hingga 16.23 WIB, atau 17.13–17.23 WITA, untuk wilayah Indonesia barat dan tengah. Sementara itu, wilayah timur Indonesia, seperti Papua dan Maluku, harus menunggu hingga Januari dan Desember untuk fenomena serupa.
Untuk melakukan kalibrasi, masyarakat hanya perlu alat sederhana: tongkat tegak lurus, jam presisi, dan kompas atau GPS. Langkahnya pun tak rumit — pastikan cuaca cerah, lokasi bebas bayangan, dan sesuaikan waktu dengan jam BMKG. Saat bayangan benda tegak menghilang atau memendek hingga titik terkecil, garis yang menghubungkan alas tongkat dengan arah bayangan terakhir adalah arah kiblat yang paling akurat.
“Ini bukan sekadar tradisi, tapi bukti bahwa ilmu pengetahuan dan keimanan bisa berjalan beriringan,” kata Thomas. “Fenomena ini mengingatkan kita bahwa arah kiblat bukan hanya soal simbol, tapi juga soal ketepatan, kehati-hatian, dan kebenaran.”
Peristiwa ini berlangsung hingga 29 Mei, memberi jendela tiga hari bagi masjid, mushala, bahkan rumah-rumah ibadah di seluruh dunia untuk memeriksa kembali orientasi mereka. Di tengah era digital yang serba canggih, justru metode klasik — tongkat dan bayangan — kembali menjadi penuntun paling tepercaya.
Di Mekah, ribuan jamaah haji yang tengah menunaikan rukun Islam kelima menyaksikan fenomena ini dari jarak dekat. Sementara di Indonesia, jutaan umat Muslim bersiap memanfaatkan momen ini — bukan hanya untuk memperbaiki arah salat, tapi juga untuk merenungkan makna kesatuan, ketelitian, dan keagungan yang dibawa oleh cahaya matahari yang sama, yang menyinari Ka’bah dan bumi sekaligus.















