Home Serba Serbi Tekno Jurnalisme Warga Lawan Debu dan Pencemaran di Kawasan Tambang Batu Bara

Jurnalisme Warga Lawan Debu dan Pencemaran di Kawasan Tambang Batu Bara

Sumbawanews.com,- Sumahyana, 48, warga Desa Muara Maung, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, merekam setiap perubahan lingkungan di kampungnya dengan kamera ponsel. Debu tebal dari truk pengangkut batu bara, jalan rusak, sungai tercemar, dan sulitnya akses air bersih menjadi catatan harian yang ia dokumentasikan sebagai bentuk perlawanan damai terhadap dampak industri tambang dan PLTU.

Sejak aktivitas pertambangan meluas di sekitar desanya, warga Muara Maung harus hidup dengan debu yang menempel di atap rumah, halaman, hingga perabot sehari-hari. Saat musim kemarau, udara penuh partikel batu bara; saat hujan, jalan berubah menjadi lumpur. Sungai Kungkilan, yang dulu menjadi sumber air minum dan kebutuhan dapur, kini tak lagi layak pakai. “Kami harus mengebor sumur atau membeli air,” ujar Sumahyana, yang menolak diam meski risiko sosial mengancam.

Desa ini berada di tengah konsesi empat perusahaan tambang batu bara—PT Mutiara Alam Sejahtera, PT Bara Alam Utama, PT Karya Kasih Agung, dan PT Bumi Merapi Energi—yang memasok bahan bakar ke PLTU Lahat milik PT Priamanaya Energi dengan kapasitas 2 x 110 MW. Meski industri ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah, warga yang tinggal di garis depannya justru menanggung beban lingkungan tanpa kompensasi.

Selain Sumahyana, ada 12 jurnalis warga lain di desa itu yang secara mandiri mengarsipkan foto, video, dan catatan harian tentang kerusakan lingkungan. Namun, banyak yang memilih diam karena takut dianggap mencari masalah. Dalam ketidakberdayaan, dokumentasi swadaya itulah satu-satunya suara yang masih terdengar.

Previous articleHarry Kane Berhenti Selebrasi, Beri Medali Perunggu ke Kiper yang Tak Main Satu Menit
Next articleMalapari, Tanaman Lokal yang Menjanjikan Energi Terbarukan Global