Sumbawanews.com,- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa 73,8% wilayah Indonesia, setara dengan 516 Zona Musim, telah memasuki musim kemarau hingga awal Agustus 2026. Curah hujan di sebagian besar wilayah mendominasi kategori rendah, mencapai 80,77%, sementara kategori menengah sebesar 18,08% dan kategori tinggi hanya 1,15%. Sebanyak 76,3% area tercatat berada di bawah normal, menunjukkan kondisi lebih kering dari rata-rata historisnya.
Dampak kemarau yang semakin meluas mulai teramati melalui kejadian kebakaran hutan dan lahan pada 4 hingga 5 Agustus 2026 di Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur. Pemantauan satelit juga mendeteksi penyebaran asap di Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Meski demikian, BMKG menyebut sejumlah fenomena atmosfer skala regional masih mendukung pembentukan awan hujan di sebagian kecil wilayah. Hujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem masih tercatat antara 3 hingga 6 Agustus 2026, terutama di Sumatera Barat (298 mm/hari), Sumatera Utara (113 mm/hari), Papua (80 mm/hari), Jawa Barat (71 mm/hari), dan Kalimantan Utara (59 mm/hari). Fenomena ini dipengaruhi oleh pergerakan Gelombang Kelvin dan Gelombang Ekuatorial Rossby yang melintasi Sumatera, Kalimantan, dan Jawa bagian barat, serta aktivitas MJO yang terpantau di utara Papua. Selain itu, sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Bengkulu menciptakan daerah konvergensi dan konfluensi yang meningkatkan suplai uap air, mendukung pertumbuhan awan hujan di sekitarnya.
BMKG menegaskan bahwa kombinasi faktor-faktor tersebut menyebabkan potensi hujan tetap tinggi di beberapa lokasi, meski sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau.















