Sumbawanews.com,- Selama periode 23 hingga 31 Mei 2026, Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami 583 kali gempa letusan, menandai aktivitas vulkanik yang tetap tinggi meski tidak menunjukkan peningkatan tekanan magmatik. Data dari Badan Geologi menyebutkan, gempa-gempa tersebut didominasi oleh kejadian erupsi, disusul oleh gempa embusan sebanyak 108 kali, tremor harmonik 24 kali, dan gempa guguran 20 kali. Selain itu, tercatat 43 kali gempa tektonik jauh dan hanya dua kali gempa vulkanik dalam.
Pengamatan visual dari Pos Pengamatan Gunung Api Semeru di Gunung Sawur, Lumajang, mengonfirmasi adanya kolom abu letusan berwarna putih hingga kelabu, mencapai ketinggian 400 hingga 1.500 meter di atas puncak. Asap kawah teramati dengan intensitas tipis hingga sedang, setinggi 100–300 meter. Guguran lava terus mengalir sejauh 500–1.000 meter ke arah tenggara, sementara awan panas guguran meluncur hingga 2.000–2.500 meter dari puncak.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menekankan bahwa awan panas yang masih terjadi bukan hasil dari pergerakan magma baru, melainkan respons terhadap material permukaan yang tidak stabil. “Ini adalah proses penyesuaian struktural, bukan indikasi akumulasi magma di dalam tubuh gunung,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada 3 Juni 2026.
Pemantauan deformasi selama seminggu itu menunjukkan pola stabil, mengindikasikan tidak ada peningkatan tekanan internal yang signifikan. Namun, potensi bahaya tetap ada. Lana memperingatkan masyarakat untuk waspada terhadap perluasan awan panas dan aliran lahar di sepanjang Sungai Besuk Kobokan, khususnya dalam radius 13 kilometer dari pusat erupsi. Di zona yang lebih dekat—500 meter dari tepi sungai—bahaya bisa menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak. Sementara itu, area dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi tetap berisiko terkena lontaran batu pijar.
Pada Rabu pagi, 3 Juni 2026, tercatat erupsi baru pukul 08.29 WIB dengan kolom abu mencapai 800 meter di atas puncak (sekitar 4.476 meter di atas permukaan laut). Sejak pukul 06.00 WIB, empat letusan kecil telah teramati. Meski aktivitas intens, status Gunung Semeru tetap pada Level III (Siaga), dan masyarakat diminta tetap menjauhi zona bahaya.
Badan Geologi terus memantau perkembangan secara real-time, sambil mengimbau warga sekitar untuk tidak mengabaikan peringatan dini. Dengan gempa yang terus berulang, Semeru tetap menjadi salah satu gunung api paling dinamis di Indonesia—bukan karena ledakan besar, tapi karena keteguhan alamnya yang tak pernah berhenti berbicara.















