Sumbawanews.com,- Gunung Marapi di Sumatera Barat kembali meletus pada Sabtu, 30 Mei 2026, pukul 08.42 WIB. Letusan yang tercatat sebagai satu-satunya gempa vulkanik sepanjang hari itu memuntahkan kolom abu setinggi 2.000 meter di atas puncak, atau setara dengan 4.891 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik yang berwarna kelabu dan berintensitas tebal teramati bergerak condong ke arah timur laut, menutupi sebagian wilayah kaki gunung.
Menurut laporan petugas Pos Pemantau Gunung Api Marapi, Ahmad Rifandi, aktivitas letusan terdeteksi pada seismogram dengan amplitudo maksimum 30 milimeter dan durasi 1 menit 25 detik. Meski tidak terjadi erupsi beruntun, potensi bahaya tetap tinggi mengingat gunung ini masih berstatus Level II — Waspada — sejak erupsi besar pada akhir 2023.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak memasuki zona bahaya dalam radius 3 kilometer dari kawah Verbeek. Lebih dari itu, warga yang tinggal di sepanjang lembah dan aliran sungai berhulu dari puncak Marapi diminta waspada terhadap ancaman banjir lahar dingin, terutama saat hujan deras melanda. “Lahar bisa muncul sewaktu-waktu, bahkan tanpa erupsi baru. Hujan saja sudah cukup menggerakkan material vulkanik yang menumpuk,” ujar Rifandi.
Pemerintah daerah dan petugas lapangan juga mengingatkan penduduk untuk mengenakan masker, kacamata, dan pakaian tertutup guna mengurangi risiko iritasi saluran pernapasan dan kulit akibat hujan abu. Sumber air bersih harus dilindungi dari kontaminasi, sementara atap rumah perlu segera dibersihkan dari timbunan abu untuk mencegah keruntuhan struktural.
Sejak letusan besar tahun 2023, Marapi terus menunjukkan pola aktivitas fluktuatif — erupsi kecil berulang, namun tidak pernah sepenuhnya tenang. PVMBG terus memantau data seismik, deformasi, dan gas vulkanik secara real-time. Rekomendasi resmi akan diperbarui sesuai perkembangan terkini.
Di kaki gunung, masyarakat yang telah terbiasa hidup di bayang-bayang ancaman vulkanik tetap bertahan. Sawah-sawah di Nagari Pariangan, Tanah Datar, masih ditanami meski abu vulkanik kerap menghiasi tanah. Bagi mereka, gunung bukan hanya ancaman — tapi bagian dari identitas dan kehidupan yang tak bisa ditinggalkan.















