Sumbawanews.com,- Jakarta – Guncangan gempa berkekuatan M5,3 yang melanda wilayah Mindanao, Filipina, pada Rabu dini hari, memperpanjang daftar bencana alam yang masih menghantui kawasan itu hanya beberapa hari setelah gempa dahsyat M7,7 mengguncang wilayah yang sama. Pusat Gempa Bumi Amerika Serikat (USGS) mencatat pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer, sekitar 45 kilometer barat laut kota Davao, dengan getaran terasa kuat hingga ke kota-kota besar seperti General Santos dan Cotabato.
Warga yang baru saja pulih dari trauma gempa sebelumnya kembali berhamburan ke jalan-jalan, menghindari bangunan tinggi. Sejumlah rumah warga di desa-desa terpencil mengalami kerusakan ringan, sementara jalan-jalan protokol sempat terputus akibat longsoran kecil. Belum ada laporan korban jiwa, tetapi otoritas setempat mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dan potensi tsunami, meskipun Badan Meteorologi Filipina (PAGASA) menyatakan tidak ada ancaman tsunami berdasarkan data terkini.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Mindanao, Rafael Mendoza, mengatakan tim evakuasi dan logistik telah dikerahkan ke 12 desa yang terdampak. “Kami masih menghitung kerusakan infrastruktur, terutama jembatan dan saluran air yang rusak akibat gempa sebelumnya. Gempa hari ini memperparah kondisi yang sudah rapuh,” ujarnya dalam konferensi pers.
Ilmuwan geofisika dari Universitas Filipina Diliman, Dr. Lina Reyes, menjelaskan bahwa gempa M5,3 ini kemungkinan besar merupakan aftershock dari gempa M7,7 yang terjadi pada 12 Juni lalu. “Energi tektonik di zona subduksi Mindanao belum sepenuhnya stabil. Gempa-gempa kecil seperti ini adalah cara kerak bumi melepaskan sisa tekanan,” jelasnya.
Pemerintah pusat Filipina telah mengalokasikan dana darurat senilai 200 juta peso untuk pemulihan cepat, sementara bantuan kemanusiaan dari organisasi internasional mulai mengalir ke wilayah terdampak. Masyarakat diminta tetap tenang, menghindari rumor, dan mengikuti informasi resmi dari otoritas setempat.















