Sumbawanews.com,- Cuaca kering kini mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, menyusap kuatnya fenomena El Nino di Samudra Pasifik. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan indeks Nino 3.4 telah mencapai +1,24 pada awal Juli 2026, masuk kategori El Nino moderat, yang berkontribusi pada penurunan curah hujan hingga 72,19 persen wilayah negara ini. Sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) atau 48,9 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan sejumlah daerah seperti Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua mengalami kondisi paling kering.
Pemantauan BMKG juga menunjukkan 329 titik pengamatan mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori sangat panjang, antara 31 hingga 60 hari. Suhu udara maksimum di sejumlah wilayah—termasuk Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Banten, dan Sulawesi Tengah—masih bertahan di atas 35 derajat Celsius pada periode 1–5 Juli 2026. Peneliti dari BRIN, Erma Yulihastin, memperkuat analisis ini dengan menyatakan bahwa pemanasan permukaan laut di Pasifik telah meningkat dari 1,1 derajat Celsius pada 21 Juni menjadi 1,25 derajat Celsius per 5 Juli 2026, menandai peralihan dari fase lemah ke moderat. Ia menambahkan, pola penjalaran panas sub-permukaan di 2026 menyerupai El Nino ekstrem tahun 1997 dan 2015, dengan indikasi pendinginan lapisan bawah di sisi barat dekat Papua yang menunjukkan dampak semakin meluas. Beberapa model iklim global memprediksi El Nino tahun ini berpotensi tumbuh menjadi fase super, dengan anomali suhu mencapai +2,0 derajat Celsius.















