Sumbawanews.com,- Tim dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) merancang ransel inovatif bernama ITB Smart-Nursery Backpack untuk membantu petani rotan di Desa Nupabomba, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, menyemaikan bibit rotan di lingkungan rumah selama tiga bulan sebelum ditanam kembali di hutan. Inovasi ini ditujukan untuk meningkatkan tingkat kelangsungan hidup bibit rotan yang di alam liar hanya mencapai kurang dari 5 persen akibat serangan hama dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Ransel ini dilengkapi sistem penyiraman otomatis, lampu ultraviolet, sensor kelembapan, dan pelindung dari hama, serta dapat dipantau melalui aplikasi smartphone. Tiga unit purwarupa dengan kapasitas menampung 50 hingga 100 bibit telah dihibahkan kepada petani, dibuat dari bahan PLA hasil cetak 3D, dengan berat 5–7 kilogram dan dimensi 48,6 cm x 67 cm x 24,5–28,7 cm.
Tim yang dipimpin Acep Purqon dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, bersama Deny Willy Junaidy dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, serta Ramadhani Eka Putra dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, merancang alat ini untuk mengatasi tantangan regenerasi rotan yang kritis. Sebagian besar bahan baku rotan dunia berasal dari Indonesia, dengan hampir 56 persen dipasok dari Donggala. Ransel ini memungkinkan petani membawa bibit dari hutan ke rumah, merawatnya dalam kondisi terkendali selama fase germinasi hingga tumbuh tunas, lalu mengembalikannya ke alam. Pengembangan selanjutnya akan fokus pada desain yang lebih ramah perempuan, inklusif bagi penyandang disabilitas, dan peningkatan kapasitas melalui penambahan baki.















