Home Serba Serbi Tekno Ancaman Terhadap Warisan Maritim Sumbar Teridentifikasi, BRIN Ajak Selamatkan Benteng VOC dan...

Ancaman Terhadap Warisan Maritim Sumbar Teridentifikasi, BRIN Ajak Selamatkan Benteng VOC dan Kapal Karam

Sumbawanews.com,- Sebuah penelitian kolaboratif oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Kelautan dan Perikanan, Universitas Bung Hatta, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III mengidentifikasi ancaman serius terhadap dua situs warisan maritim di Sumatera Barat: Situs Benteng VOC dan Dermaga Kuna Pulau Cingkuak, serta Situs Bangkai Kapal M.V. Boelongan. Kedua situs ini—yang mewakili jejak pelabuhan kolonial di darat dan kapal karam di laut—terancam oleh abrasi pantai, pelapukan struktur, perubahan iklim, dan akumulasi sedimen, yang berpotensi menghapus jejak sejarah perdagangan maritim selama lebih dari tiga abad. Penelitian ini menjadi dasar ilmiah untuk merancang strategi perlindungan berkelanjutan yang mengintegrasikan pelestarian budaya, ekologi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.

Pulau Cingkuak, yang berjarak 500 meter dari Pantai Carocok di Painan, menjadi lokasi reruntuhan Benteng VOC dan dermaga kuno yang pernah menjadi loji dagang pertama VOC di pantai barat Sumatera. Struktur benteng kini mengalami kerusakan akibat kombinasi abrasi, aktivitas gempa, dan usia bangunan yang melebihi 300 tahun. Di sisi lain, Situs Bangkai Kapal M.V. Boelongan yang tenggelam sekitar 20 kilometer utara Painan, berada di kedalaman 16–25 meter di Teluk Mandeh. Sebagian badan kapal telah tertutup lumpur, namun haluan kapal masih teridentifikasi menghadap barat daya, menunjukkan pola pelayaran masa lalu. Ekosistem terumbu karang dan karang lunak tumbuh di sekitar bangkai kapal, sementara sejumlah ikan kerapu berukuran besar menjadikannya habitat alami, membuktikan bahwa situs arkeologi bawah laut juga berfungsi sebagai ekosistem laut yang dinamis.

Peneliti dari Pusat Riset Arkeologi, Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan (ALMBB) BRIN, Ira Dillenia, menekankan bahwa ancaman terhadap situs ini bukan hanya soal kerusakan fisik, tetapi juga hilangnya pengetahuan sejarah maritim yang terkandung di dalamnya. Kawasan ini pernah menjadi pusat jaringan perdagangan penting yang terhubung melalui muara sungai sebagai jalur distribusi sumber daya alam dan hasil bumi. Jika tidak dikelola secara inklusif dan berkelanjutan, nilai sejarah, arkeologis, dan ekologis yang saling terkait akan lenyap, menghapus kesempatan memahami dinamika perdagangan, pelayaran, dan perjuangan masyarakat pesisir di Sumatera Barat masa lalu.

Berdasarkan temuan ilmiah, peneliti merekomendasikan strategi mitigasi yang mencakup perlindungan terhadap tekanan sosial, perubahan ekologi, dan dampak perubahan iklim global. Rekomendasi ini diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan daerah untuk melindungi, mengelola, dan memanfaatkan situs secara berkelanjutan. Dengan pendekatan terpadu, kedua situs berpotensi menjadi model Taman Eco Arkeologi Laut yang tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga mendukung ekonomi biru, ilmu pengetahuan, dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Previous articleLegislator Perindo Lombok Barat Dapat Apresiasi karena Kawal Ketat APBD 2025
Next articleIlmuwan Berhasil Awetkan Ginjal Babi Lebih dari Sehari dengan Suhu Ekstrem