Sumbawanews.com,- Vietnam tengah mematangkan strategi mematikan di set-piece sebagai senjata utama menjelang Piala AFF 2026, memicu kewaspadaan tinggi dari Timnas Indonesia yang akan berjumpa langsung di Grup A. Di bawah arahan pelatih Kim Sang-sik, The Golden Star Warriors mengalami transformasi taktis yang membuat serangan dari tendangan bebas dan sepak pojok menjadi ancaman nyata.
Media Vietnam, *The Thao 247*, melaporkan bahwa pemusatan latihan terbaru memperkuat kualitas tim dalam eksekusi bola mati, dengan penambahan pemain-pemain berkepribadian tinggi di udara dan presisi tinggi dalam mengirim umpan silang. Nama-nama seperti Nguyen Quang Hai, Hoang Duc, Khuat Van Khang, hingga Hoang Hen kini menjadi ancaman konsisten di setiap situasi statis—baik dari jarak dekat maupun jarak jauh.
Kembalinya Phan Tuan Tai dan Nguyen Dinh Bac ke tim inti semakin memperkaya variasi serangan. Keduanya, yang dikenal memiliki akurasi umpan silang luar biasa, memungkinkan pelatih untuk memilih eksekutor terbaik sesuai jarak dan posisi terhadap gawang lawan. Ini membuat pola serangan Vietnam semakin sulit diprediksi—bukan hanya karena kecepatan atau teknik individu, tetapi karena ketajaman sistematis dalam memanfaatkan peluang kecil.
Pertandingan Piala AFF dikenal sering berlangsung ketat, di mana satu gol dari bola mati bisa menentukan nasib sebuah laga. Dengan keunggulan ini, Vietnam tidak lagi hanya mengandalkan kecepatan sayap atau serangan balik, tetapi telah berkembang menjadi tim yang mampu mengubah tekanan menjadi peluang—bahkan ketika dominasi bola tidak berpihak padanya.
Bagi Timnas Indonesia, yang akan menghadapi Vietnam dalam laga pembuka Grup A bersama Singapura, Kamboja, dan Timor Leste, ini bukan sekadar tantangan teknis, melainkan ujian strategis. Kesiapan bertahan terhadap serangan set-piece, termasuk pengaturan posisi dan komunikasi antar lini, akan menjadi kunci utama untuk menghindari kekalahan tak terduga.
Sementara tim-tim lain seperti Kamboja dan Thailand juga terus memperkuat diri, Vietnam kini tampil sebagai kandidat terkuat kedua setelah Thailand, dengan fokus jelas: menjadikan bola mati sebagai senjata pembeda di turnamen yang menentukan kejayaan sepak bola Asia Tenggara.















