Home Berita Olah Raga Schweinsteiger Dinilai Rasis Usai Komentari Gaya Sepak Bola Pantai Gading

Schweinsteiger Dinilai Rasis Usai Komentari Gaya Sepak Bola Pantai Gading

Sumbawanews.com,- Pelatih Timnas Pantai Gading, Emerse Fae, mengecam keras pernyataan mantan gelandang Jerman, Bastian Schweinsteiger, yang dinilainya mengandung muatan rasial terhadap tim-tim Afrika. Komentar itu dilontarkan Schweinsteiger saat bertindak sebagai analis di stasiun televisi Jerman ARD, menjelang laga antara Jerman dan Pantai Gading dalam Piala Dunia 2026.

Schweinsteiger menyebut permainan Pantai Gading sebagai “sedikit bergaya sepak bola Afrika”, “tidak ortodoks”, “liar”, dan “tidak terlalu terikat pada taktik”. Pernyataan itu langsung memicu reaksi tajam dari Fae, yang menyebutnya sebagai bentuk stereotip lama yang merendahkan kecerdasan dan kedalaman permainan tim-tim Afrika.

“Ini menyedihkan. Schweinsteiger adalah pemain hebat yang selalu saya kagumi. Tapi ketika saya mendengar kata-katanya, saya kecewa—sangat kecewa,” ujar Fae dalam konferensi pers usai laga, Jumat, 26 Juni 2026, dini hari WIB.

Fae, yang baru saja membawa timnya lolos ke babak 32 besar Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah setelah menang 2-0 atas Curaçao, menegaskan bahwa tim Afrika bukan sekadar kekuatan fisik. “Kami bukan hanya kuat secara fisik. Kami teknis. Kami taktis. Kami punya visi, strategi, dan kecerdasan permainan yang sama tingginya dengan tim-tim Eropa. Jika itu yang disebut ‘liar’, maka mari kita berhenti memakai label yang penuh prasangka.”

Meski mengaku kecewa, Fae tetap membuka ruang bagi Schweinsteiger untuk memperbaiki pandangannya. “Saya berharap ini hanya salah pilih kata, bukan cerminan keyakinan mendalamnya. Jika ia benar-benar berpikir demikian, itu haknya. Tapi saya tidak akan diam jika itu diulang—karena ini bukan soal sepak bola, tapi soal martabat.”

Komentar Fae muncul di tengah gelombang dukungan dari berbagai pihak yang menilai pernyataan Schweinsteiger sebagai bagian dari pola diskursus yang terus menggambarkan tim Afrika sebagai “tidak teratur” atau “alami”, seolah-olah keberhasilan mereka adalah hasil kebetulan atau bakat alamiah belaka, bukan hasil latihan, disiplin, dan strategi.

Pantai Gading sendiri menyelesaikan fase grup dengan catatan satu kemenangan, satu kekalahan, dan satu seri. Mereka finis di posisi kedua Grup E, di belakang Jerman, dan akan menghadapi pemenang Grup F—antara Prancis atau Norwegia—pada 30 Juni mendatang di Arlington, Texas.

Sementara itu, Schweinsteiger belum memberikan respons resmi atas kritik yang mengalir deras dari berbagai belahan dunia. Namun, dalam dunia sepak bola yang semakin sadar akan keberagaman, pernyataan seorang tokoh sekelasnya kini tak lagi bisa dianggap sebagai sekadar opini pribadi—tapi sebagai cerminan nilai yang dibawa ke kancah global. Dan bagi Fae, ini adalah momen untuk menuntut lebih dari sekadar kata maaf. Ia menuntut perubahan cara pandang.

Previous articleJese Rodriguez Batalkan Pindah ke Persib, Perpanjang Kontrak di Las Palmas
Next articleTurki Kalahkan AS 2-1 di Babak Pertama, Paraguay-Australia Imbang 0-0