Home Berita Olah Raga Rasisme di Piala Dunia 2026: Suara Kuno yang Masih Bergema di Tribun

Rasisme di Piala Dunia 2026: Suara Kuno yang Masih Bergema di Tribun

Sumbawanews.com,- Piala Dunia 2026 kembali menjadi panggung bagi rasisme yang mengakar dalam sejarah, ketika ejekan bernada diskriminatif terdengar jelas dari tribun stadion selama laga babak 16 besar dan 32 besar. Di Atlanta dan Miami, suporter Argentina melantunkan chant yang meragukan ke-Prancis-an pemain tim nasional Prancis, sementara di tribun lain, IShowSpeed menjadi sasaran hinaan rasial, dan seorang senator Paraguay membandingkan Kylian Mbappé dengan monyet—peristiwa yang terjadi pada Juli 2026, di tengah pesta sepak bola global.

Rasisme yang muncul bukanlah insiden spontan, melainkan refleksi dari narasi panjang yang terus diwariskan dan dinormalisasi di kalangan sebagian suporter. Chant yang sama pernah muncul usai final Piala Dunia 2022 dan kembali mencuat di Copa America 2024, menunjukkan bahwa ini bukan soal individu, tapi sistem budaya yang menganggap identitas kulit sebagai ukuran keaslian kebangsaan. Stadion, yang seharusnya menjadi simbol persatuan, justru berubah menjadi ruang di mana prasangka lama merasa sah untuk dinyatakan terang-terangan di depan jutaan kamera.

Peristiwa ini menegaskan bahwa sepak bola, meski dianggap sebagai bahasa universal, tetap menjadi cermin dari ketidakadilan sosial yang belum terselesaikan di luar lapangan. Ketika identitas seseorang dinilai bukan berdasarkan bakat atau semangat, tapi warna kulit dan garis keturunan, maka mimpi persatuan yang dijual Piala Dunia pun retak—bukan oleh pemain di lapangan, tapi oleh suara yang berasal dari masa silam.

Previous articleMyanmar Klaim Aung San Suu Kyi Dalam Kondisi Sehat
Next articlePemerintah Pertimbangkan Penggabungan Sekolah Dasar yang Kekurangan Siswa