Sumbawanews.com,- Pertandingan klasik antara Persija Jakarta dan Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu, 12 September 2026, menjadi perhatian serius PSSI. Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, secara tegas meminta suporter Persib Bandung untuk tidak datang langsung ke Jakarta, demi menjaga keamanan dan menciptakan iklim sepak bola yang damai. Pernyataan ini disampaikan sebagai bagian dari upaya federasi membangun persaudaraan antarsuporter, meski keputusan akhir diserahkan kepada aparat keamanan, manajemen Persija, dan kelompok The Jakmania.
Yunus mengungkapkan, awalnya PSSI berharap bisa menghadirkan sejumlah kecil suporter Persib—hanya lima hingga sepuluh orang—sebagai simbol persahabatan dan penegasan bahwa rivalitas hanya terbatas pada lapangan hijau. Namun, mengingat situasi terkini dan komitmen bersama untuk menjaga ketertiban, PSSI memutuskan lebih baik suporter Bobotoh menonton laga secara nonton bareng di daerah masing-masing. “Jangan memaksakan diri untuk datang ke Jakarta dan atau ke Stadion Gelora Bung Karno. Semoga iklim sepak bola Indonesia tetap damai dan tidak ada hal-hal yang negatif yang dapat merugikan tim yang bertanding,” ujar Yunus.
Ia menekankan bahwa sepak bola sejatinya adalah pemersatu bangsa, bukan pemicu perpecahan. PSSI berkomitmen secara bertahap membuka ruang bagi pertemuan suporter lawan di kandang lawan, seperti yang pernah terjadi antara Arema dan Persebaya, namun semua itu bergantung pada komunikasi baik dan kepatuhan terhadap aturan keamanan. Yunus juga mengajak seluruh suporter, baik dari Persija maupun Persib, untuk tidak terprovokasi, menjaga ketertiban, dan menghormati aparat yang bertugas selama pertandingan berlangsung.
Dengan latar belakang tujuh tahun sejak terakhir kali kedua tim bertemu di SUGBK, pertandingan ini bukan sekadar laga olahraga, tapi ujian bagi kedewasaan fans dan keberanian federasi dalam membangun budaya sepak bola yang lebih sehat. Prediksi dari pelatih Persib, Igor Tolic, menyebut timnya akan tampil maksimal, namun fokus utama PSSI tetap pada keamanan dan perdamaian—bukan skor atau kemenangan.















