Sumbawanews.com,- Timnas Paraguay tampil agresif hingga nyaris menyerupai laga tarkam saat menghadapi Prancis pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Philadelphia, Senin, 6 Juli 2026. Permainan kasar dan banyaknya pelanggaran fisik menjadi ciri khas La Albirroja, yang bahkan tidak mendapat satu kartu kuning pun meski melakukan lebih dari 30 pelanggaran. Meski menguasai ritme permainan dengan tekanan fisik tinggi, Paraguay harus tersingkir setelah kalah 0-1 lewat gol penalti Kylian Mbappé di menit ke-70. Wasit Ilgiz Tantashev memberi hukuman penalti setelah VAR memutuskan Desire Doue dilanggar di dalam kotak terlarang.
Gaya bermain Paraguay yang mengutamakan kekerasan fisik, bahkan terhadap bintang Prancis seperti Mbappé, memicu kontroversi. Pemain seperti Juan José Cáceres, Andrés Cubas, dan Matías Galarza kerap terlibat duel keras yang nyaris melampaui batas fair play. Namun, wasit justru memberi tiga kartu kuning kepada tim asuhan Didier Deschamps, sementara pemain Paraguay lolos dari sanksi apapun. Kondisi ini memicu kecaman dari sejumlah pihak, termasuk mantan pelatih Orlando Gill, yang menyindir dengan kalimat: “Bola boleh lewat, kaki jangan!”—sebuah sindiran tajam terhadap pendekatan bermain yang lebih mengutamakan penghentian lawan daripada merebut bola.
Kekalahan ini mengakhiri perjalanan Paraguay di Piala Dunia 2026, sekaligus menjadi catatan kelam dalam sejarah partisipasi mereka di ajang empat tahunan itu. Sementara itu, Prancis melaju ke babak berikutnya dengan kemenangan sempit, meski harus menghadapi tekanan fisik luar biasa dari lawan yang tak gentar meski tanpa kartu peringatan.















