Sumbawanews.com,- Kapten Paris Saint-Germain, Marquinhos, menjadi penerima pertama penghargaan UEFA Respect: Beyond the Game Award pada 27 Agustus 2026, menyusul aksi empatiknya usai final Liga Champions 2026. Penghargaan ini diberikan UEFA sebagai pengakuan atas tindakan sportivitas yang mengutamakan kemanusiaan di atas persaingan, setelah Marquinhos mendekati dan menghibur bek Arsenal Gabriel Magalhaes yang gagal mengeksekusi penalti penentu kemenangan. Meski PSG menang dalam adu penalti, Marquinhos memilih untuk tidak merayakan kemenangan, melainkan memberikan dukungan emosional kepada lawan di momen paling rapuh dalam kariernya. Presiden UEFA Aleksander Ceferin memuji tindakan itu sebagai contoh nyata bahwa sepak bola bisa lebih dari sekadar pertandingan — ia adalah panggung kemanusiaan.
Penghargaan UEFA Respect: Beyond the Game Award merupakan inisiatif baru di bawah platform UEFA Respect, yang telah berjalan lebih dari dua dekade untuk mempromosikan nilai-nilai positif dalam sepak bola Eropa. Penghargaan ini terbuka bagi pemain, pelatih, staf teknis, wasit, hingga suporter di semua kompetisi UEFA, dan akan menjadi agenda tetap dalam kalender resmi UEFA. Marquinhos menjadi sosok pertama yang memenangkan penghargaan ini, mengalahkan sejumlah kandidat lain yang juga dinilai karena tindakan mulia di lapangan.
Dalam pernyataannya, Ceferin menekankan bahwa naluri pertama Marquinhos setelah memenangkan trofi terbesar di sepak bola klub Eropa bukanlah untuk merayakan, melainkan untuk melintasi lapangan, memeluk, dan menasihati lawan yang sedang berduka. “Sepak bola penuh dengan momen yang terasa lebih besar dari kehidupan. Momen itu juga terasa sangat manusiawi — dan itulah yang akan dikenang,” ujar Ceferin. Aksi Marquinhos pun langsung menjadi viral di media sosial, dengan akun resmi UEFA membagikan pesan: “Congratulations to @marquinhos_m5, the first-ever winner of the UEFA Respect: Beyond the Game Award. Building on our Respect campaign, the award celebrates gestures of kindness, dignity, solidarity and empathy.”
Penghargaan ini bukan sekadar simbol, tapi pernyataan kuat UEFA bahwa olahraga harus tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan. Di tengah gempuran komersialisasi dan tekanan hasil, Marquinhos membuktikan bahwa kehormatan sejati lahir bukan dari trofi, tapi dari cara seseorang berdiri setelah menang — terutama ketika lawannya jatuh.















