Sumbawanews.com,- Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris di Atlanta Stadium pada 16 Juli 2026 memicu kembali sengketa politik lama soal Kepulauan Falkland atau Malvinas. Setelah Argentina menang 2-1, pemain Tim Tango membentangkan spanduk bertuliskan “Malvinas Milik Argentina”, aksi yang langsung memicu kemarahan fans Inggris dan desakan resmi dari pemerintah Inggris agar FIFA memberikan sanksi. Sengketa wilayah ini berakar pada perang 1982 yang menewaskan ratusan tentara, dan hingga kini tetap tak terselesaikan meski warga Falkland memilih tetap menjadi bagian dari Inggris dalam referendum 2013.
Kepulauan Falkland, yang diakui Argentina sebagai wilayahnya, memiliki tim sepak bola sendiri bernama Timnas Falkland. Tim yang dilatih Daniel Biggs sejak 2025 ini aktif berkompetisi di Island Games, ajang sepak bola antar kepulauan kecil, namun tidak pernah bisa bergabung dengan FIFA atau CONMEBOL karena posisi politik anggotanya yang mendukung Argentina. Terakhir, Falkland kalah dari Aaland, wilayah otonomi Finlandia, pada turnamen 2023. Karena statusnya yang bukan negara berdaulat, Timnas Falkland tidak memenuhi syarat untuk tampil di Piala Dunia atau Copa America.
Meski pertandingan di lapangan telah usai, dampak politiknya masih bergema. FIFA kini sedang menyelidiki penggunaan spanduk bernuansa teritorial itu, sementara pemerintah Inggris menegaskan bahwa sepak bola seharusnya tidak menjadi panggung konflik geopolitik. Argentina, di sisi lain, tetap mempertahankan posisinya bahwa Malvinas adalah bagian tak terpisahkan dari identitas nasionalnya — sebuah sikap yang telah menjadi bagian dari budaya olahraga dan sejarah bangsa sejak puluhan tahun silam.















