Sumbawanews.com,- Pertandingan Liga Belanda antara FC Utrecht dan Go Ahead Eagles di Stadion Galgenwaard, Sabtu, 5 September 2026, terpaksa dihentikan akibat kerusuhan suporter. Aksi anarkis berupa pelemparan kembang api dan gelas ke lapangan memaksa wasit Martin van den Kerkhof menghentikan laga, setelah Go Ahead Eagles unggul 3-0 melalui gol Mathis Suray, Soren Tengstedt, dan Victor Edvardsen. Pertandingan sempat dilanjutkan setelah FC Utrecht memperkecil skor lewat Dani de Wit menjadi 1-3, namun gangguan kembali terjadi, sehingga wasit memutuskan menghentikan pertandingan secara permanen. Laga ditunda dan dijadwalkan dilanjutkan tanpa penonton pada Selasa, 8 September 2026.
Go Ahead Eagles tampil dominan sepanjang babak pertama hingga menit ke-64, dengan tiga gol yang dicetak secara terpisah oleh Suray, Tengstedt, dan Edvardsen. Dean James, pemain Timnas Indonesia yang membela Go Ahead Eagles, ikut bermain hingga laga dihentikan, meski tidak mencetak gol. Sementara itu, Miliano Jonathans dari FC Utrecht, yang juga pemain Timnas Indonesia, absen karena cedera, sehingga duel antar pemain Indonesia yang diantisipasi tidak terwujud.
Manajemen FC Utrecht mengutuk keras tindakan suporter yang dinilai membahayakan keselamatan pemain dan petugas. Direktur Umum Edo Keuning menyatakan kekecewaan mendalam, menegaskan bahwa pelemparan kembang api ke lapangan adalah tindakan tak dapat ditoleransi. Klub berjanji akan menggunakan rekaman kamera pengawas untuk mengidentifikasi pelaku dan mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang terlibat dalam kerusuhan.
Laga yang seharusnya menjadi momen penting bagi dua pemain Indonesia di Eropa berubah menjadi skandal keamanan, mengaburkan prestasi olahraga di tengah semangat kompetisi. Pihak Eredivisie dan asosiasi sepak bola Belanda diharapkan segera merespons insiden ini dengan kebijakan yang tegas demi menjaga integritas liga.















