Sumbawanews.com,- Pada malam final Piala Dunia 2026, Senin, 20 Juli 2026, komentator asal Swiss, David Lemos, memicu gejolak global saat secara terbuka mengkritik penyelenggaraan turnamen tersebut dalam siaran langsung Radio Television Suisse (RTS). Saat tim Spanyol merayakan kemenangan 1-0 atas Argentina dan menerima trofi, Lemos menyampaikan monolog panjang yang mengecam komersialisasi berlebihan, intervensi politik, dan diskriminasi yang merusak esensi sepak bola.
Lemos menyoroti kebijakan FIFA yang dianggapnya serakah, terutama dalam penetapan harga tiket yang menghalangi fans biasa untuk menyaksikan laga. Ia menyindir pernyataan Gianni Infantino yang memuji Piala Dunia 2026 sebagai “hal terindah yang pernah terjadi pada umat manusia,” sambil menegaskan bahwa di balik kegembiraan di stadion, ada harga sosial yang dibayar oleh mereka yang tak mampu membeli tiket. Ia juga menyinggung larangan masuk bagi wasit asal Somalia, Omar Artan, yang dikaitkan dengan kebijakan imigrasi Donald Trump, serta intervensi Gedung Putih dalam kasus kartu merah terhadap pemain Folarin Balogun—sebuah langkah yang, menurutnya, menempatkan presiden di pusat permainan, bertentangan dengan prinsip otonomi olahraga.
Kritik Lemos juga menyentuh perlakuan tidak adil terhadap tim Iran, yang dinilainya tidak diberi ruang sepenuhnya untuk bersaing. Ia membandingkan kejadian ini dengan skandal 1982 saat Emir Kuwait turun ke lapangan untuk membatalkan gol, dan menyayangkan bahwa kini seorang kepala negara justru menjadi aktor utama dalam keputusan teknis pertandingan. Ucapan Lemos langsung viral di media sosial, memicu respons beragam: sebagian memujinya sebagai suara keberanian di tengah media arus utama yang diam, sementara sebagian lain menyerang Swiss sebagai negara yang juga punya catatan buruk dalam isu imigrasi.
Kritik tajam ini menjadi momen paling mencolok dalam sejarah siaran Piala Dunia, mengingat jarangnya komentator olahraga berani mengangkat isu politik dan etika secara terbuka di tengah puncak acara global.















