Sumbawanews.com,- Presiden Prabowo Subianto mengusulkan izin kewarganegaraan ganda terbatas bagi diaspora berprestasi, membuka jalan bagi tiga pemain keturunan Indonesia untuk memperkuat Timnas Indonesia. Usulan ini disampaikan Presiden dalam Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR RI Tahun Sidang 2026–2027 di Gedung Nusantara, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026. Jika direalisasikan, tiga pemain muda berdarah Indonesia—Laurin Ulrich, Ethan Kohler, dan Tristan Gooijer—berpeluang besar menjadi bagian dari skuat tim nasional.
Laurin Ulrich, gelandang berusia 21 tahun yang kini bermain di SC Paderborn setelah dipinjam dari VfB Stuttgart, memiliki darah Indonesia dari ayahnya yang berasal dari Surabaya. Pemain yang lincah di posisi gelandang sentral, gelandang serang, maupun winger kiri ini dianggap sebagai solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan Timnas terhadap Thom Haye dalam membongkar pertahanan lawan. Karakter fisik dan pergerakannya dinilai cocok dengan sistem permainan pelatih John Herdman.
Sementara itu, Ethan Kohler, bek berpostur 183 cm yang kini menjadi andalan New England Revolution di MLS, memiliki garis keturunan Indonesia dari ibunya yang berasal dari Bali. Pemain berusia 21 tahun ini telah tampil 15 kali di kompetisi MLS 2026 dan dianggap sebagai aset jangka panjang untuk memperkuat lini belakang Timnas yang selama ini kerap kekurangan kedalaman.
Terakhir, Tristan Gooijer, bek kanan sekaligus bek tengah berusia 21 tahun, memiliki darah Indonesia dari sang ibu. Setelah mencatatkan tiga gol dan tiga assist dalam 23 penampilan bersama PEC Zwolle di Eredivisie 2025–2026, ia kembali ke Ajax Amsterdam U-21. Kemampuannya di dua posisi sekaligus membuatnya menjadi opsi ideal untuk memperdalam lini pertahanan Timnas Indonesia, terutama dalam menghadapi serangan sayap yang agresif.
Usulan kewarganegaraan ganda terbatas ini bukan sekadar langkah administratif, tetapi potensi transformasi strategis bagi sepak bola Indonesia. Dengan tiga pemain muda berkaliber Eropa yang siap dipanggil, pemerintah dan PSSI memiliki kesempatan langka untuk membangun tim nasional yang lebih kompetitif di kancah Asia.















