Sumbawanews.com,- Pep Guardiola mengaku tidak merindukan bangku pelatih saat ini, menegaskan bahwa ia butuh waktu jauh dari sepak bola untuk memulihkan diri secara mental dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Mantan pelatih Manchester City itu, yang baru saja menyelesaikan dekade penuh keberhasilan di Etihad Stadium, menyatakan bahwa ia tidak merasa ada dorongan untuk kembali melatih, meski ada spekulasi kuat bahwa Timnas Italia sedang mempertimbangkannya sebagai pengganti Gennaro Gattuso. Guardiola, yang telah menghabiskan 18 dari 19 tahun terakhir di kursi pelatih, mengatakan bahwa ia ingin menemukan kembali makna hidup di luar lapangan, termasuk merawat ayahnya yang berusia 95 tahun dan lebih banyak bersama anak-anaknya.
Sejak debutnya di Barcelona B pada 2007, Guardiola tidak pernah berhenti melatih—kecuali satu tahun istirahat setelah meninggalkan Barcelona pada 2012. Ia kemudian memimpin Bayern Munich dari 2013 hingga 2016, sebelum pindah ke Manchester City dan membangun era kejayaan selama satu dekade. Kini, di usia 56 tahun, ia mengaku perspektif hidupnya telah berubah. “Saya mulai melatih saat berusia 37 tahun, dan segala hal dalam hidup saya terhubung dengan sepak bola. Sekarang saya ingin menemukan hidup dan bahagia melakukan hal-hal yang tak terkait dengan sepak bola,” ujarnya, seperti dikutip dari Football Italia. Ia menekankan bahwa untuk kembali melatih, ia harus merasakan rasa rindu yang nyata—dan saat ini, rasa itu belum muncul.
Meski sejumlah pihak di Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dan tokoh seperti Leonardo Bonucci pernah menyatakan harapan agar Guardiola memimpin Azzurri, jawaban tegas sang pelatih menutup kemungkinan itu untuk sementara waktu. Ia tidak menutup pintu sepenuhnya untuk masa depan, tetapi menegaskan bahwa keputusan itu harus datang dari hati, bukan dari tekanan atau ekspektasi. “Mungkin suatu hari saya akan bangun dan berkata, ‘Oke, saya ingin melatih lagi.’ Tapi sekarang, saya tidak merasa demikian.”
Guardiola kini tengah menikmati masa cuti panjangnya, fokus pada kehidupan pribadi, refleksi, dan menyesuaikan diri dengan babak baru dalam hidupnya—bukan sebagai pelatih legendaris, tapi sebagai seorang ayah, anak, dan manusia biasa yang sedang mencari ketenangan.















