Sumbawanews.com,- Jakarta, 27 Juni 2026 — Drama terjadi di menit akhir laga Grup G Piala Dunia 2026 antara Iran dan Mesir di Seattle Stadium. Gol yang seakan mengantarkan Tim Melli menang 2-1 dianulir olehwasit, setelah VAR memutuskan bek Iran, Omid Khalilzadeh, berada dalam posisi offside—meski secara visual tampak masih ada satu pemain Mesir di belakangnya.
Laga yang berakhir 1-1 itu awalnya berjalan lancar. Mahmoud Saber membuka skor untuk Mesir di menit kelima, sebelum Ramin Rezaeian menyamakan kedudukan sembilan menit berselang. Tendangan penalti Mehdi Taremi di babak pertama gagal membawa Iran unggul, dan di injury time babak kedua, muncul momen yang mengubah segalanya.
Dari situasi tendangan bebas, bola melesat liar ke arah Khalilzadeh yang berdiri di sisi kotak penalti. Ia menyundulnya masuk ke gawang. Para pemain Iran langsung berlari merayakan, para pendukung bersorak, dan kamera pun menangkap ekspresi kegembiraan yang hampir memecah kanvas. Jika disahkan, Iran akan mengumpulkan lima poin, berada di posisi kedua Grup G, dan langsung lolos ke babak 32 besar.
Namun, kegembiraan itu sirna dalam hitungan detik. VAR menghentikan perayaan. Setelah analisis mendalam, wasit utama meniup peluit—gol dianulir.
Kenapa?
Aturan offside dalam Law 11 IFAB tidak mengacu pada keberadaan kiper semata, melainkan pada posisi dua pemain lawan terakhir yang berada paling dekat dengan garis gawang saat bola dilepaskan. Dalam situasi ini, kiper Mesir, Mohamed El Shobeir, telah maju keluar dari gawang, meninggalkan ruang kosong di belakang. Saat bola dimainkan, hanya ada satu pemain bertahan Mesir yang berada di depan Khalilzadeh. Karena tidak ada dua pemain lawan yang menjadi “pembatas”, maka otomatis, Khalilzadeh berada dalam posisi offside.
Penjelasan teknis ini memicu perdebatan di media sosial. Banyak fans merasa kecewa, karena secara visual, tampak seperti ada “pembatas”. Tapi dalam aturan sepakbola modern, yang diukur bukanlah jumlah pemain, melainkan kedudukan relatif antara bola, pemain penyerang, dan dua pemain lawan terakhir—tak peduli apakah yang terakhir itu kiper atau bek.
Hasilnya, Iran harus menelan kekalahan tak terduga, terjebak di posisi ketiga Grup G dengan tiga poin dan selisih gol nol. Mereka kini bergantung pada hasil laga lain untuk bersaing sebagai salah satu dari empat tim peringkat tiga terbaik yang berhak melaju ke babak gugur.
Sementara itu, Mesir tetap bertahan di urutan kedua dengan lima poin—sama seperti Belgia, yang menahan imbang Iran 0-0 di laga sebelumnya. Klasemen pun terasa semakin ketat, dengan Kroasia dan Aljazair juga mengoleksi tiga poin, menanti nasib di laga terakhir.
Drama offside ini bukan hanya soal teknis peraturan. Ia adalah pengingat bahwa di level tertinggi, sepakbola bisa berubah dalam sekejap—bukan karena kesalahan, tapi karena ketatnya definisi aturan yang tak mengenal emosi.















