Sumbawanews.com,- Di tengah hujan gol yang memporakporandakan lini pertahanan, Frans Putros berdiri tegak di sisi kanan pertahanan Irak—bukan sekadar pemain, tapi sejarah yang berjalan di atas rumput BMO Field, Toronto. Pada Sabtu, 27 Juni 2026, dini hari WIB, pemain 33 tahun itu menjadi sosok pertama yang pernah membela Persib Bandung sekaligus tampil di panggung tertinggi sepak bola dunia: Piala Dunia.
Dikenal sebagai fullback serbaguna, Putros dipercaya pelatih Graham Arnold untuk mengisi posisi right-back dalam skema 4-1-4-1. Ia menjalani laga penuh 90 menit saat Irak kalah telak 0-5 dari Senegal, laga pamungkas Grup I yang menutup perjalanan Singa Mesopotamia di turnamen ini. Meski hasil tak menghargai perjuangan timnya, penampilan Putros tetap menjadi momen bersejarah bagi sepak bola Indonesia—khususnya bagi Persib, klub yang selama puluhan tahun menjadi rumah bagi para pemain terbaik tanah air.
Sebelumnya, belum pernah ada pemain aktif Persib yang mendapat kehormatan tampil di Piala Dunia. Nama-nama legendaris seperti Bambang Pamungkas, Robert Alberts, atau bahkan Ezechiel N’Douassel—meski pernah dipanggil timnas—tidak pernah sampai ke panggung puncak. Putros, yang sebelumnya membela Port FC di Thailand, menjadi jembatan antara klub raksasa Liga 1 dan dunia sepak bola global.
Laga itu berjalan penuh duka bagi Irak. Di menit keempat, Habib Diarra membuka keunggulan Senegal lewat umpan Abdoulaye Seck. Tiga menit berselang, Rebin Sulaka menerima kartu merah langsung setelah menarik Sadio Mane di kotak penalti, memaksa Irak bertahan dengan 10 orang. Dari situ, serangan Senegal tak terbendung: Ismaila Sarr, Pape Gueye (ganda), dan Iliman Ndiaye masing-masing mencetak gol, memperdalam luka tim asal Timur Tengah itu.
Putros, yang sejak awal karier profesionalnya dikenal karena ketahanan fisik dan disiplin taktis, tetap berusaha mengimbangi kecepatan sayap Senegal meski kekurangan jumlah pemain. Ia melakukan 4 clearances, 3 intersepsi, dan 2 tackle sukses—statistik yang tak tercatat dalam skor, tapi tak terlupakan dalam sejarah.
Kemenangan Senegal mengakhiri perjalanan Irak di fase grup, namun bagi Persib dan para suporter di Bandung, malam itu bukan tentang kekalahan. Ini adalah malam ketika seorang anak Indonesia yang bermain di liga asing, dengan darah dan semangat yang tak pernah lupa tanah air, membawa nama klubnya ke peta dunia—bukan sebagai peserta, tapi sebagai pelaku sejarah.
Frans Putros bukan hanya pemain Persib yang bermain di Piala Dunia. Ia adalah bukti bahwa kebanggaan klub bisa beresonansi jauh melebihi batas stadion.















