Sumbawanews.com,- Timnas Argentina meraih kemenangan dramatis 3-2 atas Mesir di babak 16 besar Piala Dunia 2026, Rabu (8/7/2026) dini hari WIB, di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta. Kemenangan yang disegel lewat gol Cristian Romero, Lionel Messi, dan Enzo Fernandez ini memicu kontroversi luas akibat sejumlah keputusan wasit Francois Letexier, termasuk pembatalan gol Mostafa Ziko dan tidak diberikannya tendangan penalti setelah pelanggaran terhadap Mohamed Salah. Pelatih Lionel Scaloni akhirnya angkat bicara, menegaskan bahwa keberhasilan timnya bukan karena keberuntungan atau keputusan wasit, melainkan ketahanan mental dan ketidakmenyerahan hingga menit terakhir.
Scaloni menekankan bahwa publik hanya ramai membicarakan pertandingan karena skor akhir yang tak biasa. “Jika skornya 2-1 atau 3-1, tak ada yang akan berkomentar. Tapi ketika Anda melihat tim lawan unggul 2-0, merasa nyaman bertahan, dan Anda tetap berjuang hingga akhir—itulah yang membuat orang bicara,” ujarnya, mengutip pernyataan dari La Nacion. Ia menegaskan, kunci utama timnya adalah konsistensi dalam bermain dan keteguhan hati. “Pada menit ke-25 babak kedua, kami terus berjuang. Terus berjuang sampai peluit panjang. Kami tidak pernah menyerah pada bola apa pun, dan tetap bermain seperti yang kami tahu caranya.”
Meski banyak pihak menuding Argentina memanfaatkan keputusan wasit, Scaloni menolak menganggap kemenangan itu sebagai hasil kecurangan. “Saya lebih memilih kalah dengan cara ini daripada menang dengan cara yang tidak tulus. Tidak diragukan lagi, itu bukan masalah besar. Anda kalah dengan cara itu—dan itu masih lebih baik daripada menang tanpa perjuangan.” Pernyataannya itu disampaikan menjelang laga perempat final melawan Swiss di Kansas City, Minggu (12/7/2026) pagi WIB.
FIFA melalui kepala perwasitan Pierluigi Collina telah membela keputusan Letexier, menyatakan bahwa kedua keputusan kontroversial—pembatalan gol Mesir dan tidak memberi penalti—telah diambil sesuai protokol VAR. Namun, Scaloni tak ingin terjebak dalam debat hukum pertandingan. Baginya, yang penting adalah bagaimana timnya merespons tekanan, bukan siapa yang salah atau benar di luar lapangan. “Kami tidak menang karena wasit. Kami menang karena kami tidak pernah berhenti berusaha.”















