Sumbawanews.com,- Sabtu malam, 8 Agustus 2026, Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi saksi momen bersejarah ketika AC Milan kembali menginjakkan kaki di Indonesia setelah 32 tahun absen. Ribuan Milanisti memadati tribun selatan, membentangkan tifo raksasa bertuliskan “Bentornato Amore” — dalam bahasa Italia berarti “Selamat datang kembali, sayang” — sebagai simbol kerinduan mendalam terhadap klub kesayangan mereka. Di tengah hingar-bingar suporter Chelsea yang membawa syal biru khas, tifo itu menjadi pusat perhatian, menggambarkan pertemuan kembali antara Rossoneri dan para pendukungnya yang setia sejak kunjungan terakhir pada 1994.
Tifo tersebut menampilkan figur seorang suporter AC Milan berjabat tangan dengan Milanello, ikon ikonik klub, dikelilingi oleh simbol iblis merah kecil yang menjadi ciri khas identitas Rossoneri. Angka 1994 dan 2026 terpampang jelas, menandai rentang waktu tiga dekade lebih yang tak tergantikan. Suasana di SUGBK tak hanya dipenuhi warna merah-hitam, tetapi juga semangat yang menggelegar, seolah waktu berhenti sejenak untuk menghormati ikatan emosional yang tak pernah putus.
Laga pramusim antara Chelsea dan AC Milan menjadi ajang spesial bukan hanya bagi para pemain, tapi juga bagi fans. Di sisi Chelsea, Xabi Alonso memainkan sejumlah andalan seperti Cole Palmer, Joao Pedro, dan Danny Welbeck. Sementara AC Milan, di bawah asuhan Ruben Amorim, menguji keseimbangan antara pengalaman dan bakat muda, dengan Luka Modric, Koni De Winter, dan Rafael Leao menjadi tulang punggung skuad. Hingga laporan ini disusun, pertandingan masih berlangsung dengan skor seimbang, masing-masing tim berusaha memecah kebuntuan.
Bagi Milanisti Indonesia, ini bukan sekadar pertandingan persahabatan. Ini adalah penggenapan impian yang telah lama ditunggu. Tifo “Bentornato Amore” bukan sekadar karya seni, tapi bukti nyata bahwa cinta terhadap AC Milan tetap hidup, meski waktu berlalu, generasi berganti, dan jarak memisahkan. Di tengah gemuruh stadion, nama Milan kembali bergema — bukan hanya sebagai tim sepak bola, tapi sebagai rumah bagi jutaan hati yang tak pernah berhenti menanti.















