Sumbawanews.com,- Rektor terpilih Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Hari Purnomo, menegaskan bahwa kampusnya tidak akan terlibat dalam pengelolaan Dapur Makan Bergizi (MBG), meski program tersebut menjadi prioritas nasional pemerintah. Janji ini ditegaskan dalam pelantikannya pada Selasa, 2 Juni 2026, di Auditorium Kampus Terpadu UII, sebagai kelanjutan kebijakan pendahulunya, Fathul Wahid.
Hari, yang menggantikan Fathul Wahid untuk periode 2026–2030, menekankan bahwa misi utama UII tetap pada peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan riset, dan penguatan nalar kritis—bukan operasionalisasi program sosial yang bersifat teknis dan administratif. “Kampus bukan dapur. Kampus adalah ruang untuk berpikir, meneliti, dan mencetak lulusan yang siap menghadapi disrupsi teknologi,” ujar Hari seusai pelantikan.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan jarak strategis UII terhadap kebijakan pemerintah yang mendorong perguruan tinggi ikut serta dalam implementasi MBG. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto sebelumnya telah mendorong kampus-kampus untuk mendirikan dan mengelola dapur MBG, menyusul peresmian program serupa di Universitas Hasanuddin pada April 2026. Namun, Hari menyatakan UII belum menerima instruksi resmi dari kementerian, dan bahkan jika ada, keputusan untuk terlibat tetap akan dipertimbangkan berdasarkan mandat akademik.
Ia menambahkan, banyak hasil riset di perguruan tinggi justru terbengkalai karena tidak tersalurkan ke masyarakat. “Kita ingin riset kita bermanfaat nyata, bukan hanya jadi arsip. Tapi itu harus lewat jalur akademik—publikasi, kolaborasi, pelatihan—bukan lewat memasak nasi gratis,” ujarnya.
Hari, yang juga guru besar teknik industri, menargetkan lulusan UII mampu bersaing di pasar kerja yang semakin didominasi kecerdasan buatan. Ia menilai, keterlibatan kampus dalam program logistik makanan justru bisa mengalihkan fokus dari pengembangan kompetensi inti mahasiswa dan dosen.
Pandangan ini sejalan dengan sikap Fathul Wahid yang sebelumnya aktif berdemonstrasi bersama masyarakat sipil menolak MBG masuk kampus, dengan alasan bahwa kampus bukan tempat untuk menjadi agen eksekutif pemerintah, melainkan pusat kritik dan inovasi. Hari menegaskan, ia tidak hanya meneruskan kebijakan, tapi juga filosofi itu.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terus mempromosikan MBG sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan dan gizi anak-anak. Prabowo bahkan terlihat langsung makan bersama siswa di SMPN 111 Jakarta dan mengunjungi Sentra Pengolahan Pangan (SPPG) Palmerah untuk memantau proses produksi MBG.
Namun, bagi UII, kebijakan nasional tidak otomatis menjadi kewajiban institusi akademik. “Kami menghormati tujuan mulia program MBG. Tapi kami juga punya tanggung jawab moral kepada ilmu pengetahuan,” tegas Hari. “Kami memilih menjadi penjaga akal sehat, bukan hanya penyalur nasi.”















