Sumbawanews.com,- Di tengah upaya pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang, Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) mendorong perguruan tinggi berperan aktif dalam menjangkau penyintas melalui layanan kesehatan langsung. Kepala Pos Komando Wilayah Aceh Satgas PRR, Safrizal Zakaria Ali, yang juga Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Syiah Kuala (USK), menegaskan bahwa dalam kondisi darurat, dokter harus datang ke masyarakat—bukan sebaliknya.
Pada Senin (15/6), USK mengirimkan tim multidisiplin ke hunian sementara penyintas banjir, terdiri dari spesialis jantung anak, obstetri-ginekologi, hingga psikolog klinis. Misi ini bukan sekadar bantuan medis darurat, tapi bentuk bakti ilmu pengetahuan yang secara konkret menyentuh kebutuhan psikologis dan fisik korban bencana. “Ilmu tidak hanya sekadar ilmu. Ia menemukan maknanya ketika mampu memberikan manfaat bagi manusia,” tegas Safrizal.
Inisiatif ini diharapkan menjadi model yang bisa diperluas ke daerah terdampak lain di Sumatera, termasuk Sumatera Utara. Safrizal meminta tim medis dari USK mencatat setiap temuan lapangan—mulai dari pola penyakit baru, kebutuhan psikologis yang terabaikan, hingga hambatan distribusi obat—sebagai masukan strategis bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pemulihan jangka panjang.
Di sisi lain, pemulihan infrastruktur kesehatan menunjukkan progres signifikan. Menurut data Kementerian Kesehatan dan Satgas PRR per 8 Juni 2026, seluruh rumah sakit daerah dan puskesmas di tiga provinsi terdampak telah beroperasi normal. Dari 2.952 puskesmas pembantu, 99,76 persen telah pulih, dengan hanya enam unit yang masih menggunakan gedung sementara.
Tak hanya kesehatan, kebutuhan dasar seperti air bersih juga menjadi fokus. Safrizal meninjau sumur bor di Gampong Johar yang kini menjadi sumber utama air bagi 300 kepala keluarga. Sebanyak 20 KK telah menerima Dana Tunggu Hunian (DTH), sementara 280 lainnya menunggu verifikasi untuk bantuan perbaikan rumah rusak ringan dan sedang.
Untuk mengatasi kerusakan PDAM Mon Krueng Baro akibat banjir, Satgas PRR akan menyalurkan 25 ton polyaluminium chloride (PAC) berstandar food grade. Bahan ini akan digunakan untuk proses penjernihan air secara massal, memastikan akses air minum aman bagi warga yang masih tinggal di lokasi rawan.
Dengan keterlibatan aktif perguruan tinggi, pemulihan pascabencana di Aceh tidak lagi sekadar upaya teknis, tapi menjadi ruang kolaborasi antara ilmu, kebijakan, dan kemanusiaan—di mana kampus bukan lagi menara gading, melainkan garda terdepan dalam membangun kembali kehidupan.

















