Sumbawanews.com,- Seiring memasuki puncak musim kemarau, sejumlah wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur mulai mengalami krisis air bersih yang mengancam kehidupan sehari-hari warga. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, lebih dari 560 kepala keluarga di Kabupaten Banyumas terdampak kekeringan, dengan titik terparah terjadi di Kelurahan Sokanegara dan Desa Taman Sari. Di kedua lokasi ini, sumber air alami mengering, memaksa warga harus menempuh jarak jauh atau mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa upaya respons telah dimulai sejak pertengahan Juni. Pemerintah daerah bersama BPBD Banyumas telah menempatkan tiga unit penampungan air berkapasitas 4.000 liter di titik strategis, sambil berupaya memperluas jaringan distribusi hingga tingkat RT. “Kebutuhan air bersih akan semakin mendesak menjelang Agustus, saat puncak kemarau diprediksi terjadi,” ujar Abdul, Sabtu (20/6/2026).
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Purbalingga, di mana Desa Kutabawa dan Desa Serang, Kecamatan Karangreja, mengalami kekeringan sejak Jumat (19/6). Warga setempat melaporkan sumur-sumur rumah tangga sudah kering, sementara sumber air permukaan seperti sungai dan mata air alami mengalami penurunan debit drastis.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau tahun ini akan lebih panjang dan intens dibanding tahun-tahun sebelumnya, didorong oleh fenomena El Nino. Wilayah selatan Indonesia, termasuk Banyumas, Purbalingga, hingga Bondowoso, menjadi zona paling rentan. BMKG juga mengingatkan potensi risiko kesehatan seperti ISPA dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) yang bisa meningkat jika tidak ada mitigasi dini.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dikabarkan sedang menyiapkan satuan tugas khusus untuk menangani dampak El Nino, termasuk mempercepat pembangunan infrastruktur air bersih jangka pendek dan jangka panjang. Sementara itu, di Kabupaten Bondowoso, tim tanggap darurat mulai mendistribusikan air bersih menggunakan mobil tangki ke desa-desa terpencil, menyusul laporan warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar selama lebih dari 20 hari tanpa hujan.
Dengan prediksi kemarau yang akan berlangsung hingga akhir Agustus, para ahli menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dalam mengelola sumber daya air secara berkelanjutan. Tanpa intervensi strategis, kekeringan bukan hanya ancaman logistik, tapi juga potensi krisis sosial yang bisa meluas ke sektor pendidikan, kesehatan, dan ketahanan pangan.















