Sumbawanews.com,- Koperasi Merah Putih di Jakarta menunjukkan variasi keuntungan yang signifikan, dari keuntungan tipis hingga operasional yang minim, tergantung lokasi dan strategi pengelolaannya. Di Koperasi Kelurahan Merah Putih Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, pengawas Tata mengaku keuntungan rata-rata berkisar 5–7 persen untuk barang seperti telur, bahkan lebih tipis untuk produk lain. Untuk meningkatkan margin, ia mengandalkan pembelian grosir dari pemasok dekat yang menyediakan beragam kebutuhan, sehingga biaya transportasi bisa ditekan. Semua transaksi dicatat dan dilaporkan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) sebagai bagian dari tata kelola koperasi.
Di Koperasi Merah Putih Bangka, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pengurus Hafiz menyatakan keuntungan terkecil ada pada beras—hanya sekitar 3 persen—sedangkan air mineral bisa memberi margin hingga 10 persen. Koperasi ini sering menggelar paket bundling sembako dengan harga Rp100.000 hingga Rp175.000, terutama saat momen puasa dan lebaran, untuk menarik pembeli. Sebagian besar stok beras dan minyak diambil dari Bulog untuk mempertahankan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET). Koperasi ini juga memanfaatkan skema konsinyasi dari Food Station, di mana pembayaran hanya dilakukan setelah barang terjual, sehingga meminimalkan kebutuhan modal. Namun, keterbatasan dana membuat sejumlah produk seperti kopi, frozen food, dan pembalut tidak selalu tersedia di rak display.
Sementara itu, Koperasi Kelurahan Merah Putih Melawai di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tampak sepi pada hari biasa, tetapi ramai saat akhir pekan, terutama oleh tenant di Blok M Hub yang sering membeli gas dan kebutuhan rumah tangga. Namun, pengurus koperasi jarang hadir karena memiliki pekerjaan lain, sehingga operasional harian dijalankan oleh karyawan penjaga. Keuntungan koperasi ini belum dapat diungkapkan karena tidak ada wakil pengurus yang bisa diwawancarai. Sebelumnya, Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengakui bahwa koperasi di Melawai hanya mencatat keuntungan sekitar Rp78 ribu dalam enam bulan, dan menegaskan bahwa model bisnis koperasi perkotaan berbeda mendasar dari koperasi desa. Kemenkop berencana menyusun prototipe khusus untuk koperasi kelurahan di kota besar, dengan pendekatan bisnis dan studi kelayakan yang disesuaikan dengan dinamika ekonomi perkotaan.















