Sumbawanews.com,- Di bawah terik matahari Mina, ribuan jamaah haji dari seluruh penjuru dunia bergerak perlahan menuju tiga pilar batu yang menjulang di tengah padang pasir. Mereka memegang kerikil kecil—tak lebih dari sekepal tangan—yang akan dilemparkan bukan sebagai simbol kekerasan, tapi sebagai pernyataan iman: penolakan terhadap godaan setan dan pengabdian penuh pada perintah Ilahi.
Ritual lempar jumrah, yang menjadi salah satu rukun haji wajib, berlangsung serentak pada Rabu, 27 Mei 2026. Di lokasi yang sama tempat Nabi Ibrahim AS pernah menghadapi ujian terberatnya, jamaah kini meneladani keteguhan hatinya. Dengan tenang, mereka melemparkan tujuh biji kerikil ke masing-masing pilar—Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan terakhir Jumrah Aqabah—sambil mengucapkan doa, memohon ampun, dan menguatkan niat.
Kerumunan yang tampak padat tak mengurangi ketenangan yang menyelimuti setiap langkah. Di antara jamaah, ada yang berjalan dengan langkah gontai, ditemani keluarga; ada pula yang berlari kecil, seakan tak ingin melewatkan momen suci itu. Di sisi jalan, petugas kesehatan dan relawan siap siaga, memantau kondisi jamaah, terutama lansia dan mereka yang lelah setelah rangkaian ibadah berat di Arafah dan Muzdalifah.
Di bawah langit biru tanpa awan, suara takbir dan doa bergema pelan, menyatu dengan angin panas yang berhembus dari padang pasir. Setiap lemparan batu bukan sekadar gerakan fisik—ia adalah perwujudan perjuangan batin, pengakuan akan kelemahan manusia, dan kepercayaan mutlak pada kekuasaan Tuhan.
Di Mina, di tengah jutaan jiwa yang berbeda bahasa, budaya, dan warna kulit, satu hal menyatukan mereka: kepasrahan. Dan di sanalah, dalam keheningan yang penuh makna, mereka menemukan kembali esensi haji—bukan hanya perjalanan ke tanah suci, tapi perjalanan pulang ke diri yang paling murni.















