Sumbawanews.com,- Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) menegaskan bahwa aktivitas pendakian di Gunung Merapi hingga kini tidak direkomendasikan, menyusul maraknya ajakan di media sosial untuk kembali membuka jalur pendakian. Pernyataan ini disampaikan Kepala BTNGM Heri Wibowo pada Jumat, 3 Juli 2026, sebagai respons terhadap permohonan sekelompok masyarakat yang diajukan pada 30 Juni 2026—permohonan yang menurutnya tidak diindahkan meski telah direspons resmi.
Heri menjelaskan, BTNGM telah menjalani serangkaian kajian mendalam sejak Juli 2025, termasuk studi sosial-ekonomi di wilayah Selo, seminar daring tentang risiko pendakian, konsultasi dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), serta sejumlah diskusi dan musyawarah dengan berbagai pihak. Semua proses itu, kata dia, menghasilkan kesimpulan yang sama: keselamatan jiwa menjadi prioritas utama.
Status aktivitas Gunung Merapi saat ini masih berada di Level III Siaga, yang berarti risiko letusan dan luncuran awan panas guguran masih tinggi. Pernyataan ini sejalan dengan catatan terbaru bahwa gunung tersebut beberapa kali meluncurkan awan panas sejauh hingga 2.000 meter dalam beberapa pekan terakhir. Meski ada tekanan dari sejumlah kelompok yang menginginkan pembukaan kembali jalur pendakian demi kepentingan ekonomi lokal, BTNGM tetap mempertahankan keputusan untuk menutup sementara akses ke puncak.
Pihaknya meminta masyarakat untuk tidak mengabaikan peringatan resmi dan tetap mengutamakan keselamatan di tengah dinamika alam yang tak bisa diprediksi.















