Sumbawanews.com,- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Selasa (16/6), memicu kepanikan di sejumlah wilayah. Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, segera merespons dengan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing hoaks. Melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, Anwar menegaskan bahwa gempa susulan masih terjadi, namun tidak perlu menimbulkan kepanikan berlebihan.
“Kepada seluruh masyarakat Sulawesi Tengah, saya mengimbau agar tetap tenang dan tidak panik,” ujar Anwar, yang saat ini masih berada di Jakarta menjalani tugas pemerintahan. Meski jauh dari lokasi, ia terus memantau perkembangan situasi secara real-time dan berkoordinasi erat dengan tim tanggap darurat serta para kepala daerah di wilayah terdampak, termasuk Wali Kota Palu, Bupati Donggala, Parigi Moutong, dan Poso.
Anwar memastikan akan segera kembali ke Sulteng malam ini untuk meninjau langsung kondisi di lapangan. Ia menekankan tiga prioritas utama penanganan darurat: penyelamatan korban luka, pendirian posko pengungsian sementara, dan pembukaan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan dasar warga. “Korban luka harus jadi prioritas pertama. Setelah itu, kita pastikan mereka punya tempat aman dan makanan cukup,” katanya.
Pemerintah daerah diminta untuk mengedepankan informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Sejauh ini, BPBD Sulteng mencatat setidaknya 42 gempa susulan pasca-gempa utama, dengan sejumlah bangunan di Palu, termasuk Universitas Tadulako, mengalami kerusakan ringan hingga berat.
BMKG menyatakan gempa ini bersifat dangkal dan dipicu aktivitas sesar Sausu, yang berpotensi memicu risiko likuefaksi di wilayah rawan. Namun, hingga kini belum ada laporan korban jiwa. Pemprov Sulteng bersama TNI, Polri, dan relawan terus bergerak cepat untuk memastikan kesiapan logistik, evakuasi, dan pemulihan infrastruktur dasar.
Anwar menutup imbauannya dengan ajakan solidaritas: “Mari kita jaga ketenangan, saling membantu, dan percaya pada proses penanganan yang sedang berjalan. Kita tidak sendiri.”















