Home Berita Nasional **Empat Wanita Perempuan di Kokpit Presiden**

**Empat Wanita Perempuan di Kokpit Presiden**

Sumbawanews.com,- Jakarta – Di balik keberangkatan Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai misi kenegaraan, ada empat sosok perempuan muda yang mengendalikan pesawat kepresidenan—mengudara dengan presisi, ketenangan, dan keberanian yang jarang dilihat publik. Mereka bukan sekadar pilot; mereka adalah pelopor yang menembus batas gender di dunia penerbangan militer dan sipil.

Asisten Khusus Presiden Dirgayuza Setiawan mengungkapkan kisah mereka lewat unggahan di Instagram, menggambarkan para perempuan ini sebagai “outliers”—individu luar biasa yang mampu mengubah narasi bahwa dunia penerbangan adalah ranah laki-laki semata.

Yang pertama adalah Captain Tania Citra, 31 tahun, pilot Boeing 777 Garuda Indonesia yang menjadi perempuan pertama di Indonesia yang menerbangkan presiden yang sedang menjabat. Pada 26 Mei 2026, ia memandu pesawat yang membawa Prabowo ke Prancis. Tania juga memegang rekor dunia sebagai pilot perempuan termuda yang mengoperasikan Boeing 777—dicatat saat berusia 29 tahun—sekaligus instruktur perempuan termuda untuk pesawat tersebut di seluruh dunia.

Di jajaran TNI Angkatan Udara, Captain Ajeng Mahessa, 30 tahun, menjadi pilot termuda di dunia yang mengendalikan pesawat Boeing 737 kepresidenan. Ia tidak hanya ahli navigasi, tapi juga pernah menjadi Paskibraka Nasional pada 2011, menunjukkan komitmen panjangnya pada pengabdian negara. Ajeng mengawal perjalanan Presiden dalam misi domestik dan jarak dekat ke luar negeri, dengan ketepatan yang mengesankan.

Captain Yustikasari Diana Putri, atau akrab dipanggil Tika, berusia 27 tahun, mengemban tugas berat di Skadron Udara 2. Ia menerbangkan pesawat CN-235 untuk misi kemanusiaan dan penerbangan ke daerah terpencil dengan landasan pendek—situasi yang membutuhkan keahlian ekstra dan keberanian tinggi. Di tengah tantangan cuaca dan infrastruktur terbatas, Tika menjadi ujung tombak logistik kemanusiaan di pelosok Nusantara.

Sementara itu, Captain Gini Setya Rahayu, baru berusia 24 tahun, menjadi pilot termuda di Skadron Udara 31 yang mengoperasikan pesawat Hercules C-130. Ia berperan krusial dalam operasi rehabilitasi di Sumatera, membawa bantuan logistik, personel, dan peralatan ke wilayah yang sulit dijangkau. Dengan usia yang masih sangat muda, Gini telah menjadi tulang punggung operasi militer yang menentukan.

Dirgayuza menekankan bahwa kisah keempat perempuan ini bukan sekadar pencapaian pribadi. “Di balik sukses mereka, ada ribuan jam latihan, kegigihan, dan tekad untuk melawan hukum gravitasi—secara harfiah dan metaforis,” tulisnya. “Mereka berhasil di dunia yang selama ini dianggap ‘dipesan’ untuk laki-laki.”

Ia berharap kisah mereka menjadi bahan inspirasi di ruang kelas, media, dan kebijakan publik. “Indonesia butuh lebih banyak outliers seperti mereka—bukan hanya karena mereka ahli, tapi karena mereka membuka pintu bagi ribuan perempuan muda lain untuk bermimpi setinggi langit.”

Keempat pilot ini bukan sekadar pengendali pesawat. Mereka adalah simbol perubahan: bukti nyata bahwa talenta tidak mengenal gender, dan keunggulan lahir dari ketekunan, bukan dari stereotip. Di langit Nusantara, mereka terbang bukan hanya untuk presiden—tapi untuk masa depan Indonesia yang lebih inklusif.

Previous article**Gardian Muhammad Dikukuhkan sebagai Sekjen APGI 3T**
Next articleDiaspora Indonesia Meriahkan Kedatangan Presiden Prabowo di Paris
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik