Sumbawanews.com,- Hujan deras yang mengguyur wilayah Sulawesi Selatan sejak 13 Mei lalu memicu banjir besar di Kabupaten Luwu Utara, merendam 29 desa di tujuh kecamatan dan menggusur ratusan warga dari rumah mereka. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, sebanyak 12.307 jiwa terdampak bencana ini, dengan 110 orang terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Luapan lima sungai utama—Rongkong, Masamba, Baliase, Kanjiro, dan Bungadidi—menjadi penyebab utama kejadian ini. Material kayu dan lumpur yang terbawa arus dari kawasan pegunungan memperparah dampak banjir, membuat akses jalan dan permukiman semakin sulit dijangkau. Kecamatan yang paling parah terdampak meliputi Baebunta Selatan, Malangke Barat, Malangke, Mappedeceng, Bone-Bone, dan Tanalili.
Infrastruktur publik ikut menjadi korban. Tiga puluh empat fasilitas ibadah, sepuluh puskesmas, dan 27 sekolah terendam air. Enam jembatan mengalami kerusakan, sementara 121.000 kilometer ruas jalan tergenang. Di tengah krisis ini, 558 lansia dan 330 balita menjadi kelompok paling rentan, dengan total 3.557 kepala keluarga terdampak. Ada pula 29 ibu hamil dan enam penyandang disabilitas yang membutuhkan perhatian khusus.
Pemerintah Kabupaten Luwu Utara telah menetapkan status tanggap darurat mulai 18 Mei hingga 16 Juni 2026. Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan terus bergerak melakukan evakuasi, distribusi logistik, dan pemantauan kesehatan di lokasi-lokasi terisolasi. Meski air mulai surut di beberapa titik, kondisi di tiga kecamatan masih stagnan, dengan genangan air yang belum kunjung surut hingga Rabu sore.
Bencana ini kembali mengingatkan akan kerentanan wilayah pegunungan dan dataran rendah di Sulawesi Selatan terhadap cuaca ekstrem. Dengan musim hujan yang diperkirakan masih berlanjut, otoritas daerah diminta mempercepat pemulihan infrastruktur dan memperkuat sistem peringatan dini untuk mencegah korban jiwa lebih banyak.















