Sumbawanews.com,- Di tengah upaya pemulihan pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, Satgas PRR bersama TNI, pemerintah daerah, dan kelompok tani mempercepat kembalinya produktivitas lahan pertanian dengan memasang 70 titik irigasi pompa. Langkah strategis ini menyasar ribuan hektare sawah yang sempat terendam lumpur dan terganggu sistem irigasinya akibat bencana hidrometeorologi pada November 2025.
Program Bantuan Irigasi Pompa (Irpop) yang dicanangkan di Kecamatan Matang Tepah dan sekitarnya bukan sekadar solusi sementara. Menurut Irwan Hadi, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Perlindungan Tanaman Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, pendekatan ini merupakan bagian dari strategi hulu-hilir pemulihan pertanian. “Kami tidak hanya membersihkan lumpur, tapi memastikan air bisa mengalir kembali ke sawah saat musim tanam tiba,” ujarnya.
Dengan dukungan infrastruktur irigasi yang andal, petani kini bisa kembali menanam padi tanpa khawatir kekeringan atau keterlambatan pasokan air. Di Kecamatan Manyak Payed, misalnya, 66 hektare lahan yang telah dibersihkan dari sisa banjir sudah ditanami padi—tanda awal kebangkitan sektor pertanian lokal.
Sementara itu, rehabilitasi lahan rusak sedang yang mencakup 712 hektare telah mencapai 60,15 persen atau 428,28 hektare hingga 14 Juni 2026. Pengerjaan dilakukan oleh Kodim 0117/Aceh Tamiang dengan bantuan alat berat dan anggaran Rp13,5 juta per hektare. Sementara untuk lahan rusak ringan sebesar 1.961 hektare, program Optimalisasi Lahan (Oplah) digerakkan oleh kelompok tani sendiri, didampingi TNI dan didanai Rp4,6 juta per hektare. Gotong royong menjadi kunci utama: petani turun langsung membersihkan sisa lumpur, memperbaiki saluran, dan menyiapkan benih.
Abdul Salam, petani di Kampung Matang Tepah, mengaku lega. “Hidup kami kembali bergairah. Sawah ini sumber nafkah kami. Tanpa bantuan Satgas PRR, kami belum tentu bisa menanam lagi tahun ini,” katanya sambil memegang tangkai padi muda yang baru tumbuh.
Erwinsyah, Ketua Kelompok Tani Tepah Jaya, menambahkan bahwa dampak bantuan ini lebih dari fisik. “Kami merasa tidak sendirian. Ada yang mendampingi, ada yang percaya kami bisa bangkit. Itu yang paling berarti.”
Dengan 70 titik pompa yang kini beroperasi, dan lebih dari 60 persen lahan rusak sedang sudah siap ditanami, Aceh Tamiang tak hanya memulihkan sawah—tapi juga membangkitkan harapan ribuan keluarga petani yang bergantung pada tanahnya. Pemulihan ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah, militer, dan masyarakat bisa mengubah bencana menjadi peluang kebangkitan.















