Sumbawanews.com,- Warga Beirut dan sekitarnya berbondong-bondong meninggalkan rumah mereka menyusul perintah langsung dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk memperluas serangan militer ke wilayah selatan Lebanon. Serangan udara yang diperkirakan menargetkan posisi Hizbullah di perbatasan telah memicu kepanikan massal, dengan ribuan keluarga mengungsi ke daerah-daerah yang dianggap lebih aman, sementara asap tebal membumbung dari titik-titik yang diserang.
Kamera warga dan jurnalis lokal merekam adegan dramatis: mobil-mobil penuh sesak dengan barang-barang seadanya, ibu-ibu memeluk anak-anak sambil berlari menuju kendaraan, dan para lansia yang terpaksa meninggalkan rumah bertahun-tahun mereka tanpa sempat mengambil barang berharga. Jalan-jalan utama menuju pegunungan Bekaa dan wilayah utara Lebanon menjadi jalur evakuasi darurat, dipadati kendaraan pribadi, truk, bahkan gerobak dorong.
Netanyahu, dalam pernyataan resmi sebelum serangan, menegaskan bahwa operasi ini adalah bagian dari “pembersihan sistematis” terhadap infrastruktur militer Hizbullah yang dianggap mengancam keamanan Israel. Pernyataan itu memperdalam kekhawatiran internasional bahwa konflik yang selama ini terbatas pada perbatasan bisa meledak menjadi perang regional.
PBB dan sejumlah negara Eropa telah mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri. Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat, meski belum mencapai kesepakatan atas resolusi gencatan senjata. Sementara itu, Iran — sekutu utama Hizbullah — memperingatkan bahwa serangan terhadap Lebanon adalah “garis merah” yang akan memicu balasan berlipat ganda.
Di tengah kekacauan, rumah sakit di Beirut Selatan kewalahan menangani korban luka, sementara pasokan listrik dan air terputus di beberapa distrik. Pemerintah Lebanon, yang sedang berjuang melawan krisis ekonomi dan politik, mengaku tidak memiliki kapasitas untuk melindungi warganya dari serangan eksternal.
Kini, kota yang dulu dikenal sebagai “Paris Timur Tengah” berubah menjadi kawasan perang. Warga yang masih bertahan di rumah-rumah mereka mengatakan mereka tidak takut pada bom, tapi pada ketidakpastian — tak tahu kapan serangan berikutnya akan datang, dan apakah rumah mereka akan tetap berdiri esok hari.















