Home Berita Internasional Wali Kota New York Pertama Boikot Parade Hari Israel

Wali Kota New York Pertama Boikot Parade Hari Israel

Sumbawanews.com,- New York City — Untuk pertama kalinya dalam sejarah parade Hari Israel yang telah berlangsung sejak 1965, Wali Kota New York Zohran Mamdani memutuskan tidak hadir dalam acara tahunan itu. Keputusan itu menciptakan gejolak di tengah ribuan warga Yahudi dan pendukung Israel yang memadati Fifth Avenue, Manhattan, pada Minggu, 1 Juni 2026.

Parade yang dikenal sebagai “Israel Day on Fifth” berjalan lancar meski tanpa kehadiran pemimpin tertinggi kota. Lebih dari 50.000 orang berbaris dengan bendera Israel, marching band warna-warni, komunitas sepeda motor, dan kelompok hobi lainnya, menunjukkan solidaritas di tengah meningkatnya antisemitisme di Amerika Serikat. Gubernur New York Kathy Hochul, Senator Chuck Schumer, Jaksa Agung Letitia James, dan sejumlah pejabat tinggi negara bagian hadir menyampaikan pesan persatuan: “Kita memilih sukacita daripada kebencian, persatuan daripada perpecahan.”

Kehadiran pejabat Israel juga mencuri perhatian. Ketua Knesset Amir Ohana memimpin delegasi termasuk Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Warisan Budaya Amichay Eliyahu dari partai sayap kanan Otzma Yehudit. Namun, kehadiran mereka tidak diumumkan sebelumnya oleh penyelenggara atau Konsulat Israel di New York, menimbulkan spekulasi tentang dinamika politik di balik layar.

Dalam sambutannya, Eric Goldstein, kepala UJA-Federation of New York, menyatakan bahwa parade kini bukan sekadar perayaan, tapi bentuk perlawanan. “Kami semakin terisolasi karena menjadi Yahudi. Karena itu, kami harus berdiri tegak di ruang publik — bangga, tak takut, dan tak tergoyahkan.”

Mamdani, yang dilantik sebagai wali kota pada Desember 2025, menjadi tokoh pertama yang memilih abstain sejak parade dimulai. Ia sebelumnya dikenal sebagai aktivis hak-hak sipil dan anggota Dewan Kota New York yang kerap mengecam kebijakan Israel terhadap Palestina. Dalam pernyataan sebelumnya, ia menyatakan bahwa kehadirannya di parade “tidak mencerminkan komitmen saya terhadap keadilan bagi semua warga, termasuk rakyat Palestina yang terus mengalami pendudukan dan kekerasan.”

Ketidakhadirannya mendapat respons beragam. Komunitas Yahudi di New York, yang merupakan yang terbesar di luar Israel, menganggap keputusan itu sebagai simbol pemisahan. Sementara kelompok pro-Palestina menyambutnya sebagai langkah moral yang konsisten dengan prinsip hak asasi manusia.

Parade tahun ini mengusung tema “Proud Americans, Proud Zionists” — sebuah pernyataan yang semakin menggema di tengah polarisasi politik global. Di tengah gelombang kebencian yang meningkat, keputusan Mamdani bukan sekadar simbolik — ia memperdalam perdebatan tentang bagaimana pemimpin harus menyeimbangkan loyalitas terhadap komunitasnya, keadilan global, dan keberanian untuk tidak ikut dalam ritual yang dianggapnya tidak inklusif.

Dengan langkah ini, Zohran Mamdani bukan hanya menjadi wali kota pertama yang boikot parade — ia menjadi pusat dari sebuah pergolakan lebih besar: di mana kebanggaan nasional bertemu dengan keadilan global, dan di mana keheningan seorang pemimpin bisa berbicara lebih keras daripada ribuan sorak.

Previous articleWaspada Hujan Petir di Jabodetabek Malam Ini
Next articleIlma Sani Masih Trauma Usai Diperiksa Terkait Laporan ke Hercules
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik